Showing posts with label fatherhood. Show all posts
Showing posts with label fatherhood. Show all posts

Wednesday, April 1, 2015

Top Ten Ways to Teach Values to Your Kids by Mark Brandenburg

In a consumer-driven society that broadcasts values that don’t reflect what you believe, how can fathers teach values to their kids? Here are ten ideas to help you:
  1. how to teach kids values Tell them your life stories and teach through your stories
    Kids love to hear stories about your childhood. Weave in some moral dilemmas and you’ve got great opportunities to teach values to them. It certainly beats lecturing your kids!

  2. Live your own life according to your values—walk the talk.
    Kids learn by imitating, especially at a young age. They are very adept at seeing if what you say and what you do are matching up. Don’t give them confusing signals; follow your own values every moment.
  3. Expose them to your religion or faith
    It seems especially important today to let them know that they’re not alone. Providing your kids with a community of faith will strengthen their values and provide parents some “leverage”
  4. Pay attention to who else might be teaching values to your kids
    Get to know your child’s teachers, coaches, relatives, etc. Anyone who spends time with your kids may be influencing them. Know their values and beliefs as well.
  5. Ask your kids questions that will stimulate dialogue about values
    Telling them what values they should have won’t always be effective, especially when your kids get older. Asking them “curious” questions will allow discussions that will eventually lead to values. “What did you think about that fight,” may be more effective than, “He shouldn’t have started that fight!”
  6. Talk to them about values in a relaxed and easy way
    Nothing will turn your kids off more than preaching values to them after they’ve screwed up! Talk to them when everyone’s relaxed, and do it in a light, conversational manner. They’ll be much more likely to be listening rather than tuning you out.
  7. Read them fairy tales when they’re younger
    Fairy tales capture the imagination of kids and can easily lead to a discussion of values. Kids will learn the most concerning values when they’re excited about the topic.
  8. Involve your kids in art, activities, or helping others while limiting TV and video games
    Kids learn values when they experience them. Allow them to experience helping others and involve them in activities that will expand their creativity.
  9. Have frequent conversations about values in your household
    This lets your kids know that it’s important and it’s not just something you talk about when they do something wrong.
  10. Have high expectations for your kids’ value systems
    Kids will tend to rise to the level of expectation you have for them. Their value system will often reflect yours if the expectations are high.

    http://www.thoughts-about-god.com

Wednesday, January 7, 2015

Ayo Berikan Lebih Banyak Pelukan ke Anak

Tahun baru selalu identik dengan resolusi baru. Banyak orang membuat resolusi untuk dijalankan sepanjang tahun 2015. Resolusi tersebut bisa terkait kehidupan sehari-hari, keuangan, bahkan dalam hal pengasuhan anak.

Kira-kira resolusi pengasuhan anak apa yang bisa dipertahankan dan diubah di tahun ini. Berikut paparannya, seperti  dilansir dari laman Huffingtonpost.

Kurangi berteriak

Sangat sulit untuk menjaga nada normal ketika anak berbuat ulah. Misalnya saat ia mencoret tembok, saat anak tak mau mandi atau ketika ananda tak mau makan. Rasanya kesabaran membujuk dengan nada normal sudah habis dan berteriak menjadi solusinya.

Tapi, tahun ini sebaiknya Anda kurangi kebiasaan berteriak. Cobalah lebih sabar menghadapi anak Anda dan berbicara pada anak dengan nada normal. Jika sedang marah dan ingin berteriak, tariklah napas dalam-dalam, kemudian hempaskan. Lalu berusaha bersikap wajar. Karena anak akan lebih mendengarkan Anda jika Anda berbicara lebih halus tanpa teriak.

Lebih sering memuji anak

Jika anak berbuat sesuatu yang benar dan Anda menyukainya, tak ada salahnya Anda memujinya. Lebih sering memuji akan membuat anak termotivasi melakukan hal baik selanjutnya karena merasa senang mendapatkan pujian dari Anda. Misalnya, ketika anak membereskan mainannya, katakan padanya,”Wah anak pintar, membereskan mainnya sendiri.” Atau ketika anak sedang mau makan dan lahap. Berikan pula pujian padanya.

Berikan banyak pelukan

Seberapa sering Anda menyentuh anak tahun lalu? Terkadang Anda sering melupakan tindakan sederhana seperti memeluk anak ini. padahal dengan pelukan anak Anda akan merasa nyaman, terlindungi dan disayang oleh orang tuanya. Selain itu, hormon oksitosin dari pelukan juga memberikan manfaat baik, anak yang pemarah akan berubah menjadi penyayang jika orang tua sering memberikan pelukan.

Katakan cinta setiap saat

Selain bentuk tindakan, bentuk perkataan yang baik dan lembut juga akan menyentuh hati anak Anda. Rajin-rajinlah mengatakan Anda mencintai dan menyayangi buah hati Anda. Jika perlu setiap pagi dan malam hari. Ketika anak baru bangun tidur dan menjelang tidur. Ini akan membuat anak merasa nyaman. Katakan ketika Anda sedang berdua dengan anak.

http://www.republika.co.id

Thursday, October 23, 2014

Ayah yang Ringan Tangan Miliki Anak Perempuan Pintar dan Sukses

Kesuksesan dan cara berpikir anak memang tergantung pada pola asuh serta pendidikan yang diberi oleh orangtua. Namun, sebuah penelitian mengatakan perilaku positif ayah juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak perempuan. Berikut Uraiannya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Psychological Science melaporkan, para ayah yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah kemungkinan besar akan menghasilkan anak perempuan yang mau bekerja keras dan berambisi dalam pendidikan.

Umumnya, pekerjaan rumahtangga selalu dikaitkan dengan tugas wanita. Namun, seiring waktu, anggapan itu sudah sedikit memudar di masyarakat, tetapi demikian, jumlah wanita yang menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan domestik seorang diri masih tinggi.  Padahal, ayah yang ringan tangan memiliki dampak positif pada tumbuh kembang anak perempuan.
Kondisi di mana ayah dan ibu saling bekerjasama di rumah membangun pikiran bahwa anak perempuan memiliki ruang dan waktu untuk mengejar cita-cita mereka, sebab kelak ada suami yang turut meringangkan tugas domestik.

"Meskipun kami telah melakukan upaya terbaik guna menciptakan kesetaraan di tempat kerja. Wanita masih sangat kurang terwakili dalam posisi kepemimpinan dan manajerial," kata Alyssa Croft, kandidat doktor di University of British Columbia kepada Asosiasi Ilmu Psikologi seperti dikutip Good Housekeeping.

Menurut Croft, studi ini sangat penting, sebab hasil studi menyarankan pentingnya membangun kesetaraan jender mulai dari lingkungan rumah.  Sebab, hal yang demikian dapat menjadi salah satu cara untuk menginspirasi para perempuan muda dalam menata rencana dan pandangan terhadap karir mereka di masa mendatang.

http://female.kompas.com/

Monday, February 3, 2014

"Catatan Serbet", Bukti Cinta Ayah pada Putrinya

Sebagai orangtua apa yang akan Anda lakukan jika Anda divonis hanya bisa bertahan hidup kurang dari lima tahun lagi? Yang pertama kali dipikirkan adalah bagaimana caranya membuat kenangan indah bersama keluarga dan anak-anak selagi bisa.

Sebelumnya, Garth Callaghan (44) adalah seorang pria yang cukup beruntung karena ia bisa lolos dari serangan penyakit kanker ginjal. Namun, dunianya serasa runtuh karena ia didiagnosa menderita kanker prostat. Dokter onkologinya mengatakan bahwa ia hanya punya delapan persen kesempatan untuk hidup sampai lima tahun lagi. Vonis ini membuatnya kalut, namun ia juga membuat janji untuk memberi kenangan indah bersama putrinya, Emma.

Hal ini diakuinya terinspirasi dari kelompok Because I Said I Would, sebuah kelompok advokasi nirlaba yang bertujuan untuk membuat dan menepati janji kepada orang yang dicintai. Ternyata Callaghan memiliki komitmen unik untuk membuktikan cinta dan dukungannya pada Emma.

Setiap harinya, ia berkomitmen untuk terus menulis sebuah kata-kata di atas serbet makan siang bersama dengan bekal makan siang putrinya. Ia berjanji akan terus menulis catatan ini sampai sang putri lulus sekolah, bahkan sampai ia sendiri tak ada di dunia dan tak lagi bisa bisa untuk menulisnya.

"Saya pikir, saya bisa menulis semua catatan serbet ini sebelumnya. Ini semua dilakukan agar saya dan mereka juga siap jika suatu saat saya tidak bisa memenuhi janji saya sendiri karena ada hal buruk yang terjadi," ungkapnya. Total catatan serbet yang sudah ditulisnya saat ini berjumlah 826 buah.

Tradisi ini dimulai ketika Emma duduk di kelas tiga sekolah dasar saat sang ayah belum divonis sakit. Callaghan selalu menuliskan catatan pada serbet di kotak bekalnya. Awalnya, hanya berupa kata-kata sederhana atau gambar, namun kini kata-kata yang dituliskannya ini lebih kepada isi hatinya, kata-kata motivasi, atau kutipan inspirasional.

"Ini sebenarnya bukan dilakukan karena saya terkena kanker, karena semua orang bisa mendapat musibah kapan saja. Tetapi ini semata-mata dilakukan karena saya ingin meninggalkan warisan yang berharga sehingga ia bisa mengerti beberapa filosofi hidup saya dan betapa saya mencintainya," paparnya.

Sang putri, Emma mengaku sangat menyukai kebiasaan ayahnya ini. "Saya suka catatan serbet untuk beberapa alasan. Tidak cuma alasan dan pesan seperti yang diinginkan ayah, seperti cinta atau belajar kata-kata baru. Namun, semua hal ini membuat saya menyadari betapa saya sangat mencintainya juga sekaligus mengingatkan saya untuk tidak menyia-nyiakan hidup," jelas Emma.

Sampai saat ini, Callaghan telah membuat sebuah website dan halaman Facebook untuk membantu orangtua berhubungan dengan anak-anak mereka. Dia juga membuat buku elektronik (e-book) dengan banyak pesan. Ia bahkan tak keberatan jika kata-katanya disalin untuk menyemangati anak-anak lainnya.

Ia juga berencana untuk menerbitkan buku yang berisi 826 catatan yang dituliskannya untuk Emma. "Pada dasarnya, saya berharap agar saya bisa berada bersama mereka lebih lama lagi, bahkan supaya bisa menulis catatan untuk cucu-cucu saya di atas serbet nantinya," tutupnya.

http://female.kompas.com

Tuesday, May 28, 2013

Pria Tanpa Anak Lebih Depresi

Walau masih ada tekanan sosial kepada kaum wanita untuk memiliki anak, tapi ternyata pria lebih merasa depresi dan kesepian jika tak memiliki keturunan.

Paling tidak hal tersebut terlihat dalam hasil survei di Inggris yang dipresentasikan dalam pertemuan Asosiasi Sosiologi Inggris di London. Survei tersebut dilakukan terhadap 27 pria dan 81 wanita yang tidak memiliki anak. Usia para responden antara 20-66 tahun dan memiliki pekerjaan tetap.

Dalam proporsi yang hampir sama, baik pria (59 persen) dan wanita (63 persen) menjawab mereka menginginkan anak. Dari kelompok tersebut, separuh pria mengatakan mereka merasa terisolasi karena belum menjadi orangtua. Sementara pada wanita hanya seperempat yang mengatakan demikian.

Dibandingkan dengan kaum wanita, para pria itu mengakui mereka lebih merasa cemburu dengan orangtua lain. Mereka juga mengakui sedih, marah, dan depresi karena tak memiliki anak.

"Hanya ada sedikit penelitian yang meneliti tentang keinginan menjadi ayah di kalangan pria. Hasil survei ini mengejutkan karena kaum wanita selama ini dianggap sebagai pihak yang paling ingin punya anak dan lebih rentan mengalami emosi negatif jika tak punya anak," kata Robin Hadley, dari United Kingdom's Keele University.

Meski begitu dalam hal perasaan bersalah, ternyata wanita mengungguli pria. Tak ada satupun pria yang disurvei itu merasa bersalah karena tak punya keturunan. Sementara ada 16 persen wanita yang merasakannya.

Dalam survei lain terhadap 125 orang yang sudah menjadi orangtua, diketahui bahwa wanita yang sedang berusaha untuk menambah anak cenderung lebih merasa marah, depresi, terisolasi, dan merasa bersalah, dibandingkan pria jika mereka mengetahui tak bisa punya anak lagi.

Tetapi pada kenyataannya tak semua orang dewasa yang tak memiliki anak mengalami perasaan seperti yang digambarkan dalam survei. Cukup banyak pasangan yang memutuskan untuk tak memiliki anak baik karena alasan ingin mengejar karir atau alasan finansial.

Sebuah studi tahun lalu menemukan bahwa wanita yang ingin punya anak tetapi tidak bisa karena alasan medis atau gangguan kesuburan adalah pihak yang paling merasa stres.


http://health.kompas.com

Tuesday, February 26, 2013

Menjadi Ayah Berkualitas

Ayah punya peran sama pentingnya seperti ibu dalam pengasuhan anak. Ketiadaan ayah, baik secara fisik dan psikologis, akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Karenanya penting bagi ayah untuk menyadari bahwa ia juga punya tugas pengasuhan yang tak bisa ditinggalkan.

Ayah, dalam menjalankan tugas pengasuhannya, perlu memiliki keterampilan keayahan (fathering skill) agar bisa mendidik dan mengasuh anak dengan maksimal. Untuk menjadi ayah berkualitas, pastikan pengasuhan ayah bermakna dan menyeluruh.

Seperti apa ayah yang berkualitas? Irwan Rinaldi, pendiri komunitas Sahabat Ayah menyebutkan beberapa kriterianya. Kualitas ayah dalam mengasuh dan mendidik anak tercermin dalam kemampuannya menjadi teladan, pengarah, pendidik, pemberi nasihat, menjadi tempat mengadu, juga menjadi penggembala.

Untuk bisa memiliki kualitas ini, ayah perlu membuka telinganya lebar-lebar mendengarkan anak. Irwan juga menyarankan, sebaiknya hindari berceramah di depan anak, berdirilah di samping anak, berikan anak pilihan, tanggung jawab dan kepercayaan.

"Anak terutama usia 0-10 mencontoh apa yang dilakukan orangtuanya termasuk ayah. Anak usia ini juga mencontoh keberanian dari ayahnya. Anak-anak juga butuh mengadu pada ayah. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, dari 100.000 anak, 70,000 di antaranya mengadu kepada ayah. Sayangnya, tak semua ayah menyalakan radar pengasuhannya," ungkap Irwan dalam talkshow  bertema "Pentingnya Waktu Berkalitas Bersama Ayah" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Yang juga penting, ayah perlu menjalankan perannya sebagai penggembala. "Ayah butuh mengarahkan anak, namun pastikan arahan sejalan dengan ibu," ungkapnya.

http://female.kompas.com

Stimulan yang Dibutuhkan Anak dari Ayah

Ayah juga punya peran penting dalam pengasuhan. Para ayah sebaiknya tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara psikologis dalam setiap tahapan tumbuh kembang anak.

Ayah juga perlu memahami tahapan perkembangan anak demi memenuhi kebutuhan si kecil. Anak usia 0-10 tahun membutuhkan pengasuhan ayah yang berbeda dengan anak usia remaja.

Irwan Rinaldi, pendiri Sahabat Ayah mengatakan, ada saat anak tumbuh dan membutuhkan stimulan dari ayahnya. Terutama anak usia 0-10 tahun yang membutuhkan kejutan dari perilaku ayahnya. Artinya dalam keseharian ayah semestinya bisa memberikan hal baru yang berbeda. Bukan rutinitas yang membosankan dan tidak membantu menstimulasi anak-anak pada usia ini.

"Anak-anak suka main game karena tidak menemukan ayah ibu yang dinamis. Padahal anak butuh eksplorasi dan anak butuh dialog. Dengan menciptakan kejutan seperti saat pulang kantor, jangan menjalani kebiasaan yang sama setiap hari. Alih-alih mengetuk pintu rumah, sesekali ketuk jendela. Sehingga anak selalu menemukan hal baru dari ayahnya," ungkapnya saat talkshow tentang parenting di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jadilah ayah yang spesial, bukan ayah yang biasa-biasa saja demi memberikan stimulasi pada anak yang mendukung tumbuh kembangnya, saran Irwan.

Lain usia anak, lain lagi stimulasi yang ayah berikan. Pada anak laki-laki remaja, mereka memiliki sikap kompetitif rendah dan kooperatif tinggi. Beda dengan anak perempuan yang kompetitifnya tinggi sementara kooperatifnya rendah. Kehadiran ayah secara psikologis dibutuhkan untuk menyeimbangkan hal ini guna membantu anak mengeskplorasi dirinya.

Untuk memberikan stimulan pada anak, ayah juga perlu memahami kebutuhan anak sesuai usia.

Pada usia 0-10 tahun, anak lebih membutuhkan perhatian ayah melalui kebiasaan saling bicara, porsinya 70 persen. Sementara 30 persennya kebutuhan untuk didengarkan, atau dengan kata lain ayah perlu memberikan telinganya lebih sedikit ketimbang mulutnya.

"Pada usia ini anak tidak butuh ayah yang cool, tapi butuh ayah yang banyak bicara," sarannya.

Sementara pada usia 10-15 tahun yang dibutuhkan anak berbeda. Kesediaan ayah untuk lebih banyak mendengar, porsinya 70 persen. Sebaiknya ayah lebih sedikit bicara, dengan porsi 30 persen saja.

Dengan memahami kebutuhan anak terkait stimulasi, ayah bisa membantu anak mengeksplorasi dirinya yang mendukung tumbuh kembangnya.

http://female.kompas.com

Cuma 1 dari 8 Ayah yang Bacakan Buku kepada Anak

Penulis laris James Patterson bergabung dengan Duchess of Cornwall dalam peluncuran kampanye mendorong lebih banyak ayah membacakan buku untuk anak-anak mereka. Pasalnya, sebuah jajak pendapat yang dilakukan yayasan membaca Booktrust mengungkapkan bahwa hanya satu dari delapan ayah yang mau membacakan buku kepada anaknya.

"Jika saya bisa membantu ayah-ayah yang lain untuk memahami peran mereka dalam membuat buku dan membaca lebih penting dalam kehidupan anak-anak, saya akan menjadi lelaki yang bahagia," kata Patterson.

Membaca, tambahnya bisa "membuka seluruh dunia kemungkinan bagi anak-anak mereka".

"Saya percaya bahwa ayah memiliki peran yang besar untuk mendorong anak-anak mereka untuk membaca," katanya saat peluncuran kampanye ayah membaca yang diberi nama Booktrust's Get Dads Reading, di sebuah perpustakaan di London.

Patterson sendiri mengaku mulai menulis buku anak-anak sejak 2005 didorong oleh keinginan untuk membuat anak lelakinya sendiri tertarik untuk membaca.

Penulis asal AS yang buku karyanya banyak dipinjam di perpustakaan di Inggris ini terkenal dengan sejumlah tulisannya seperti kisah detektif Alex Cross. Karya lainnya serial Maximum Ride dan Daniel X menjadi buku laris dan disukai anak-anak serta orang dewasa. Buku terbarunya dengan kisah tentang remaja di sekolah menengah akan dirilis bulan depan di AS.

"Ini bukan tentang membaca Charles Dickens atau Shakespeare, tetapi belajar untuk membaca dengan kepercayaan diri - jika anda bisa melakukannya maka bisa membantu anda di sekolah, kuliah dan pekerjaan," ungkapnya.

"Amerika ada di depan dalam membuat anak mau membaca, Inggris tertinggal di belakang Amerika - ada yang salah di sini," tambahnya kemudian.

'Peran perempuan'
Patterson yang meraih penghargaan penulis buku anak-anak tahun 2010, telah menjual sekitar 260 juta kopi bukunya di seluruh dunia. Novelis berusia 65 tahun ini juga membuat situs ReadKiddoRead untuk membantu ayah mencari buku-buku yang menarik untuk dibacakan ke anaknya.

Jajak pendapat Booktrust mengungkap bahwa hanya 13% ayah di Inggris yang mau membacakan buku untuk anak-anak mereka. Seperempat responden beralasan sibuk kerja membuat mereka tidak bisa membacakan buku untuk anak-anak mereka.

Kajian lain yang dilakukan Institusi Pendidikan menyebut banyak ayah yang memandang membaca buku merupakan peran seorang perempuan.

"Hal yang paling penting bagi ayah untuk memahami bahwa jika anak-anak melihat ayah mereka membaca, mereka terlihat lebih menikmati diri mereka sendiri," kata Viv Bird, kepala eksekutif Booktrust.

"Ada bukti bahwa anak laki-laki jauh tertinggal di belakang anak perempuan dalam membaca - dan ini menekankan bahwa penting bagi ayah untuk menjadi panutan bagi anak lelaki termasuk anak perempuan mereka ketika membaca,'' tambah Viv Bird.

http://female.kompas.com

Ajak Ayah Hadir Secara Fisik dan Psikis

Ayah punya peran penting dalam pengasuhan anak, terutama bagi anak-anak di usia pertumbuhan 0-15 tahun. Kehadiran ayah, secara fisik dan psikis dibutuhkan anak-anak dalam masa penting ini.

Sayangnya, keterampilan keayahan (fathering skill) masih sangat terbatas karena beragam faktor. Baik karena minimnya kesadaran ayah tentang peranannya dalam pengasuhan, hingga terbatasnya akses mendapatkan informasi pengasuhan lantaran urusan pengasuhan anak lebih banyak menyasar kaum ibu ketimbang ayah.

Menyadari bahwa ayah juga butuh akses pengetahuan pengasuhan juga ruang berbagi pengalaman seputar perannya dalam keluarga, Mothercare bekerja sama dengan Sahabat Ayah mengadakan talkshow bertema "Pentingnya Waktu Berkalitas Bersama Ayah". Kegiatan yang berlangsung di Doodles Miniapolis Plaza Indonesia ini menghadirkan pendiri Sahabat Ayah, Irwan Rinaldi, selaku pembicara. Pelanggan juga pengunjung Mothercare yang berbelanja minimal Rp 200.000 berkesempatan mengikuti talkshow untuk menggali pengetahuan mengenai keayahan dari Sahabat Ayah.

Dalam paparannya, Irwan menekankan pentingnya kehadiran ayah secara psikologis bagi anak-anak. Irwan pun membagi kiat untuk para ayah, agar selalu bisa meluangkan waktu dan perhatian untuk anak-anak, kapan dan di mana saja. Bahkan di tengah kesibukan ayah mencari nafkah, pengasuhan tak bisa ditinggalkan.

Pengasuhan anak membutuhkan peran ayah dan ibu yang setara. Karena anak membutuhkan keteladanan dari ayah dan ibunya secara seimbang. "Sesibuk apa pun ayah jangan lewatkan waktu penting untuk anak yakni saat bangun pagi dan sebelum tidur. Golden moment akan datang setiap detik. Momen fathering juga akan datang kapan saja, tergantung apakah ayah cukup peka terhadapnya," Irwan memaparkan saat talkshow berlangsung Sabtu (23/2/2013).

Pada kesempatan yang sama, Yully Purwanti Nugroho, humas Sahabat Ayah berharap kegiatan sosialisasi isu keayahan yang mencakup kegiatan berbagi keterampilan keayahan ini, lebih banyak melibatkan dan mendapatkan perhatian kaum ayah. Pasalnya, isu keayahan ini belum banyak yang memerhatikan, terutama dari kalangan pria lantaran masih kuatnya paradigma mengenai peran ayah hanya sebagai pencari nafkah semata. Juga mindset ayah yang masih perlu diubah.

"Isu keayahan bukan isu seksi, tidak ada yang memerhatikan. Kuatnya mindset ayah sebagai pencari nafkah juga perlu diubah. Belum lagi motherhood masih sangat kuat di Asia. Anak berayah ada, berayah tiada. Punya ayah secara fisik namun tidak berayah secara psikologis," ungkapnya kepada Kompas Female seusai acara.

http://female.kompas.com

Ayah Bekerja, Anak Kehilangan Secara Psikis

Anak membutuhkan orangtua yang hadir secara menyeluruh, fisik dan psikis. Kehadiran sosok ayah dan ibu sama pentingnya dalam pengasuhan terutama di masa tumbuh kembang. Bagi orangtua bekerja, kebutuhan anak ini (kehadiran fisik dan psikis dari orangtunya) menjadi tantangan tersendiri, yang semestinya disikapi dengan tepat. Tak terkecuali untuk ayah bekerja.

Pendiri komunitas Sahabat Ayah, Irwan Rinaldi, dalam talkshow seputar isu keayahan di Jakarta memberikan kiat bagaimana ayah bekerja bisa berperan aktif dalam pengasuhan.Irwan mengatakan, kalau pun ayah sibuk bekerja bahkan kerap meninggalkan keluarga ke luar kota untuk urusan pekerjaan misalnya, bukan berarti peran pengasuhan ditinggalkan.

"Lakukan kebiasaan yang membuat anak tidak kehilangan ayah secara psikologis. Kehilangan psikologis lebih berat ketimbang kehilangan secara fisik," ungkapnya.

Irwan menyarankan, saat ayah tidak berada di rumah, apalagi dalam waktu lama, sebelum pergi setiap harinya tuliskan perasaan ayah pada selembar kertas. Titipkan catatan ini kepada ibu, minta ibu bacakan catatan kecil ayah untuk anak setiap harinya. Catatan ini bisa berupa ungkapan perasaan ayah kepada anak, cerita menarik yang ayah alami setiap harinya, atau hal menarik lain yang ingin ayah ceritakan kepada anak lewat ibu saat ayah tidak berada di rumah atau harus melakukan perjalanan dinas.

Cara lainnya, jika dalam beberapa hari ayah tak ada di rumah karena harus bekerja, biasakan menulis catatan harian (diary). Tuliskan apa momen luar biasa yang ayah alami saat berada di luar rumah, setiap harinya. Begitu pulang ke rumah, setelah urusan pekerjaan selesai di luar kota atau luar negeri misalnya, ceritakan apa yang ayah tuliskan tersebut kepada anak-anak.

"Golden moment dengan anak akan datang setiap detik, begitu pun dengan moment of fathering yang bisa datang kapan saja. Tergantung apakah ayah cukup peka menemukannya. Sesibuk apa pun ayah, jangan lewatkan waktu-waktu penting bersama anak yakni saat bangun pagi dan mau tidur," sarannya.

Peran ayah dalam pengasuhan penting. Ayah yang tidak banyak berperan dalam pengasuhan berdampak pada kematangan anak secara psikologis. Saat anak tumbuh semakin besar secara fisik, ini tak diimbangi dengan pertumbuhan psikis, lantaran minimnya kehadiran ayah secara psikologis dalam masa tumbuh kembang anak. Dampak minimnya peran pengasuhan ayah pun beragam. Di antaranya anak memiliki masalah dalam pengambilan keputusan saat ia bertumbuh remaja atau dewasa muda, selain tidak adanya kemandirian anak.

http://female.kompas.com

Menjadi Ayah Berkualitas

Ayah punya peran sama pentingnya seperti ibu dalam pengasuhan anak. Ketiadaan ayah, baik secara fisik dan psikologis, akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Karenanya penting bagi ayah untuk menyadari bahwa ia juga punya tugas pengasuhan yang tak bisa ditinggalkan.

Ayah, dalam menjalankan tugas pengasuhannya, perlu memiliki keterampilan keayahan (fathering skill) agar bisa mendidik dan mengasuh anak dengan maksimal. Untuk menjadi ayah berkualitas, pastikan pengasuhan ayah bermakna dan menyeluruh.

Seperti apa ayah yang berkualitas? Irwan Rinaldi, pendiri komunitas Sahabat Ayah menyebutkan beberapa kriterianya. Kualitas ayah dalam mengasuh dan mendidik anak tercermin dalam kemampuannya menjadi teladan, pengarah, pendidik, pemberi nasihat, menjadi tempat mengadu, juga menjadi penggembala.

Untuk bisa memiliki kualitas ini, ayah perlu membuka telinganya lebar-lebar mendengarkan anak. Irwan juga menyarankan, sebaiknya hindari berceramah di depan anak, berdirilah di samping anak, berikan anak pilihan, tanggung jawab dan kepercayaan.

"Anak terutama usia 0-10 mencontoh apa yang dilakukan orangtuanya termasuk ayah. Anak usia ini juga mencontoh keberanian dari ayahnya. Anak-anak juga butuh mengadu pada ayah. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, dari 100.000 anak, 70,000 di antaranya mengadu kepada ayah. Sayangnya, tak semua ayah menyalakan radar pengasuhannya," ungkap Irwan dalam talkshow  bertema "Pentingnya Waktu Berkalitas Bersama Ayah" di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Yang juga penting, ayah perlu menjalankan perannya sebagai penggembala. "Ayah butuh mengarahkan anak, namun pastikan arahan sejalan dengan ibu," ungkapnya.

http://female.kompas.com

Tuesday, February 5, 2013

KISAH MASA TUA SEORANG AYAH



SEDIKIT RENUNGAN BUAT KITA-K IT A YANG MASIH MUDA ( YANG KELAK AKAN MENJADI  TUA PULA .... )

Suatu hari seorang sahabat saya pergi ke rumah orang jompo atau lebih  terkenal dengan sebutan panti werdha bersama dengan teman-temannya. Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba  mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri  sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.
 Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba  mengajaknya berbicara.. Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau  mengobrol dengannya  dan si opa menceritakan kisah hidupnya.

Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak  yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang  sangat bagus.

 Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai  ke luar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan  juga dalam  berkeluarga..

Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan  menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Sejak kematian istri  saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami sudah  mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.

 Tidak sebulan sekali anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu tiba-tiba anak sulung saya datang dan  mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga  saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.

Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan.

Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih  menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?

Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

Sekarang sudah 2 tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.

Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat - sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.

Sejak itu sahabat saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang opa. Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.

Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita.

 Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?
 Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi seperti ini.

 Jika kamu masih mempunyai orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orang tua. Jika kamu menerima e-mail ini berarti masih ada orang yang
 peduli kepadamu untuk mengingatkan jasa kedua orang tuamu.

 When was the last time you chat to your parent? THEY NEED YOU!

Love your parents in anyway they are...

sumber:  http://dhammacitta.org

Ibu Juga Bisa Menghambat Kedekatan Ayah dan Anak

Anak-anak tak hanya butuh ibunya untuk bisa tumbuh dan berkembang. Keterlibatan ayah juga sangat dibutuhkan untuk membantu perkembangan anak, terutama kemampuan logikanya. Sayangnya, ada satu masalah yang sering dihadapi para ibu, yaitu kesulitan membujuk para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam setiap kegiatan pengasuhan anak. Alasan yang paling sering diungkapkan para ayah adalah lelah, atau bahwa mengasuh anak adalah tugas ibu.

Menurut psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, Psi, sebagian besar alasan ini sebenarnya digunakan para ayah sebagai senjata pamungkas untuk menghindari keterlibatan dalam mengasuh anak. Selain itu,"Alasan utama para ayah kurang terlibat dalam pengasuhan anak adalah karena tidak adanya dukungan dan bantuan dari istri," ungkap Anna dalam acara Wall's Cool Weekend Selection di Birdcage Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Anna, ada dua tipe istri yang membuat ayah enggan terlibat atau sebaliknya, bersedia aktif dalam pengasuhan anak:

1. Tipe penghambat
Perempuan memiliki banyak waktu untuk belajar tentang cara-cara pengasuhan anak yang tepat dari banyak orang, seperti keluarga atau komunitas para ibu. Sedangkan, pria hanya belajar untuk mengasuh anak dari sang istri, sehingga mereka sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dari istri untuk bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.
Tanpa disadari, hal ini membuat ibu bisa menjadi faktor penghambat terbesar kedekatan ayah dan anak. "Ibu-ibu ini justru tidak mendukung suaminya untuk kegiatan parenting ini, bahkan untuk hal yang kecil sekalipun, misalnya mengganti popok," tukasnya.
Hal ini bermula dari rasa gemas ketika melihat suami selalu salah memakaikan popok pada anak. Akhirnya, Anda mengambil alih tugas tersebut. Saat mengambil alih pekerjaan tersebut, tanpa disadari Anda juga sering marah, ngomel, mengkritik, atau protes mengenai cara suami mendidik anak. Anna mengungkapkan, hal ini membuat para pria merasa diremehkan kemampuannya, serta dianggap tak becus melakukan apapun.

"Pria punya gengsi yang tinggi, dan ketika mereka dimarahi karena hal ini, mereka merasa kemaskulinan mereka tercoreng sehingga akhirnya mereka pun cenderung malas untuk melakukannya lagi, walaupun mereka sangat ingin," bebernya.
Untuk mencegah para ayah menjadi "kapok" mengasuh anak, cobalah untuk lebih bersabar dalam melibatkan mereka dalam aktivitas ini. Jangan mudah menyerah dan tak perlu marah-marah. Katakan saja apa yang harus mereka lakukan.

2. Tipe pendukung
Istri yang punya sifat pendukung merupakan tipe istri dan ibu yang sangat diidamkan. Kedekatan ayah dan anak bisa terjalin dengan baik atas dukungan dari istri. Ada banyak cara yang bisa dilakukan ibu untuk membantu ayah dekat dengan anaknya, salah satunya dengan mendorong anak untuk beraktivitas di dekat ayahnya. Selain itu, ayah pun sering diajak dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehingga mereka merasa terlibat di dalamnya.
"Ciptakan situasi dimana peran sang ayah sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas, sehingga mereka merasa dihargai," saran Anna.

Cara lainnya adalah dengan membuat situasi dimana ayah harus bisa menjaga dan menemani anak selagi Anda ke toilet atau pergi ke warung. "Setelah ayah berhasil bermain dan menjaga anak dengan baik, sekalipun ada hal yang salah jangan langsung dikritik. Sebaliknya, beri pujian dan ucapan terima kasih karena sudah mau membantu Anda menjaga anak," sarannya.
Hal ini akan membuat pria merasa kerja kerasnya dihargai dan selalu dibutuhkan, sehingga mereka lebih mau terlibat secara aktif dalam mendidik anak.

sumber:Kompas.com

Haruskah Ayah Hadir Saat Persalinan?

Di film-film zaman dulu, banyak adegan yang menggambarkan bahwa saat persalinan, sang ayah tak perlu hadir. Kadang, mereka hanya menunggu di tempat berbeda, dan menunggu kabar. Tetapi zaman sekarang, banyak calon ibu yang mengharapkan kehadiran si ayah saat persalinan. Apa bedanya?

Alasan untuk kehadiran ayah:
Penguatan
Banyak para calon ibu yang merasa bahwa kehadiran si ayah bayi saat kelahiran bisa menguatkan sekaligus menenangkan mereka saat panik. Hanya dengan mengetahui dan menggenggam tangan orang yang ia kenal dan sayangi, akan membuatnya merasa lebih tenang serta bertingkah berbeda.

Keluarga Berjauhan
Di zaman dulu, keluarga wajib hukumnya untuk berdekatan, bahkan kalau bisa keluarga jauh pun harus tinggal berdekatan. Saat ini, dengan makin mudahnya jalur berkomunikasi dan kebutuhan untuk relokasi karena karier atau hal lainnya makin banyak. Tak heran banyak pasangan yang saat ini tinggal berjauhan. Karenanya, saat ini sudah biasa bahwa persalinan hanya ditemani oleh ibu atau kakak/adik perempuan si calon ibu.

Komunikasi

Si calon ayah bisa membantu untuk berkomunikasi dengan tenaga medis yang membantu persalinan. Kadang, ibu dari si calon ibu (nenek) akan kesulitan menyampaikan apa keinginan dari si calon ibu yang sedang bersalin. Karenanya, sang calon ayah akan lebih mengerti apa keinginan dari si calon ibu dan bisa berperan sebagai penyambung lidah.

Kehadiran
Sepertinya, saat ini semakin banyak calon ibu yang lebih menginginkan agar pasangannya ada dekat dengannya saat persalinan untuk berbagi pengalaman di masa depan.

Menjadi Saksi
Kelahiran anak adalah sebuah pengalaman yang luar biasa untuk semua orang. Ini adalah sebuah pengalaman yang mengagumkan untuk ada di tempat saat kelahiran. Ini merupakan momen dalam hidup yang tak akan terlupakan.

Alasan untuk tak ada di sana:
Bagaimana dengan keputusan untuk tidak ada dalam ruangan yang sama saat persalinan?

Mempersulit Keadaan
Jika si calon ayah adalah tipe orang yang gampang panik dan stres, maka hal itu bisa memengaruhi kondisi si calon ibu, yang otomatis membuat proses persalinan jadi tambah ribet.

Berantakannya
Melahirkan dengan cara alami adalah sebuah hal yang menyeramkan bagi mereka yang tak terbiasa melihat darah dan hal-hal medis. Akan ada darah, cairan ketuban, tinja, air seni, dan banyak lainnya. Tanyakan kepada si calon ayah, apakah ia akan kuat menghadapi hal-hal tersebut, dan apakah ia akan "ilfil" setelah melihat hal-hal tersebut, termasuk dalam hal seksualitas.

Nyali
Sebagian pria bergidik ketika membayangkan akan ada banyak darah, luka, dan hal sebagainya saat proses kelahiran. Di dalam hati, ada pikiran yang mengatakan bahwa ia sebaiknya tidak ada di dalam ketimbang merusak pikirannya. Jika ia sempat berpikir seperti itu, sebaiknya biarkan nyalinya yang berbicara, ketimbang ia setengah hati berada di dalam ruang persalinan.

Keputusan Sejak Awal

Jika si calon ayah memutuskan untuk ada di dalam ruangan saat kelahiran, bicarakan hal ini secara tuntas sebelum hari kelahiran dan putuskan apa perannya dari jauh-jauh hari. Apakah ia hanya berperan untuk menenangkan atau menguatkan, atau si calon ibu dan si calon ayah lebih nyaman berperan sebagai penyambung lidah Anda kepada bidan atau dokter kandungan, atau hanya sebagai seksi dokumentasi?

Apa pun yang dipilih, pastikan Anda dan suami membicarakannya dan sepakat memilih yang terbaik dan mengutamakan kesehatan si bayi dan si ibu yang sedang berjuang membawa si kecil ke dunia.


Sumber: thebabywebsite.com

Anak Disiplin jika Punya "Bonding" Kuat dengan Ayah

Peran pengasuhan tak hanya milik kaum ibu. Ayah pun punya peran dan tanggung jawab yang sama termasuk dalam hal mendisiplinkan anak. Memiliki sosok ayah yang penuh kasih sayang, peduli, namun juga menonjolkan karakter yang kuat, tak sekadar menjadi role model bagi anak namun juga membantu orangtua mendisiplinkan anak.

Umumnya, para ayah punya peran lebih dominan dalam mendisiplinkan anak, dengan figur tegasnya. Kadang cara ayah mendisiplinkan anak tak tepat bahkan cenderung keliru. Ayah merasa wajib mengajarkan disiplin kepada anak dengan suara tinggi, apalagi jika anak mulai berperilaku yang tak sesuai standarnya. Alhasil, ayah tampil sebagai sosok kuat dan dominan, tapi minim kelekatan hubungan dengan anak-anaknya.

Judy H Wright, coach hubungan keluarga dan penulis lebih dari 20 judul buku keluarga, mengatakan orangtua bisa menginterpretasikan disiplin dengan banyak cara. Para ayah pun bisa memilih ragam cara berbeda dalam mendisiplinkan anaknya. Kebanyakan, ayah mengaitkan disiplin dengan hukuman. Pada akhirnya, hubungan ayah-anak pun menjadi tegang dengan lebih sedikit bonding dibandingkan hubungan ibu-anak. Hal ini terjadi karena pola asuh yang berlangsung turun temurun.

"Kebanyakan pria tumbuh dengan ayah yang memiliki waktu bekerja panjang, dan ibu mendominasi pengasuhan. Sewaktu kecil, pria sering menerima perlakuan seperti, 'tunggu sampai ayahmu pulang'. Konsekuensinya, sebagian pria tumbuh tanpa sosok ayah yang turut mengasuh dan menunjukkan kasih sayang," jelasnya.

Pola pengasuhan inilah yang diadopsi, dan kemudian dipraktikkan pria kepada anak-anaknya. Padahal anak membutuhkan sosok ayah yang bisa ia percaya. Anak juga membutuhkan perhatian dan bonding dari ayah seperti yang ia dapatkan dari ibunya.

Jika ayah mampu membangun bonding dengan anak, dan berhasil mendapatkan rasa percaya darinya,  justru ayah akan lebih mudah menerapkan disiplin. Berikut sejumlah cara yang bisa dilakukan ayah untuk membangun bonding sekaligus bisa mendisiplinkan anak, agar tampil sebagai sosok ayah kuat tapi juga penyayang:

1. Ayah bersikap tegas, namun juga baik dan penuh penghargaan terhadap anak untuk membangun bonding.
2. Lebih sering mengatakan "Ya" daripada "Tidak" bahkan ketika ingin melarang anak makan kue kering. Misalnya, "Ya, kamu boleh makan kue, tapi setelah makan malam ya".
3. Berikan konsekuensi logis untuk memperbaiki perilaku anak yang buruk. Misalnya, "Kalau kamu meninggalkan sepeda sembarangan sekali lagi, ayah dan ibu akan memasukkannya di garasi selama seminggu."
4. Menjaga integritas dengan menjadi role model. Anak Anda akan meniru apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda ucapkan.
5. Adakan pertemuan rutin keluarga untuk memberikan kesempatan kepada semua anggota keluarga untuk berbagi ide dan menampung saran. Cara ini bisa membuat hubungan keluarga tambah erat. Usahakan untuk menggelar pertemuan keluarga yang menyenangkan, bukan menjadi momen saling mengoreksi atau bahkan memicu konflik.


sumber: Kompas.com

Ayah Cekatan Bikin Anak Berperilaku Baik

Apakah suami termasuk ayah cekatan, yang selalu sigap membantu Anda mengasuh anak-anak? Berbahagialah, karena Anda berdua akan membantu anak-anak menjadi lebih cerdas dan berperilaku baik.
Dalam studinya yang dilakukan dalam jangka panjang, Concordia University di Canada mengamati perilaku 138 anak usia 3-5 tahun berikut orangtuanya masing-masing. Anak-anak ini lalu diamati lagi setelah usianya menjadi 9-13 tahun. Anak-anak diminta mengerjakan ujian kecerdasan, sementara ibu mereka menjawab kuesioner mengenai lingkungan rumah dan konflik yang terjadi bersama pasangannya.

Studi yang dimuat di Canadian Journal of Behavioural Science ini mendapati bahwa ketidakhadiran ayah akan sangat memengaruhi anak-anak perempuan, sehingga mereka mengalami masalah emosional dengan tingkat yang lebih tinggi selama pertengahan masa kanak-kanak.

"Para ayah ternyata memberikan kontribusi yang penting dalam perkembangan perilaku dan kecerdasan anak," ujar Erin Pougnet, kandidat PhD di Concordia University Department of Psychology.

Menurutnya, para ayah yang tergolong aktif berperan dalam awal dan pertengahan masa kecil anak-anak mereka, cenderung akan membesarkan anak dengan masalah perilaku yang lebih rendah. Selain itu, setelah dewasa anak-anak ini memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak sering bertemu ayahnya. Hal ini juga berlaku di antara keluarga yang status sosial dan ekonominya kurang baik.
Namun menurut Profesor Lisa A. Serbin, salah satu tim peneliti, para single mom yang membesarkan anak-anaknya sendirian tanpa kehadiran suami tidak perlu khawatir.
"Ibu dan pengasuh lain juga penting (dalam kehidupan anak). Para ayah memang memiliki pengaruh utama, namun jelas ada banyak cara alternatif untuk membesarkan anak yang sehat. Ada beberapa anak yang tak pernah bertemu ayahnya lagi, atau yang ayahnya tinggal berjauhan, ternyata cukup baik secara intelektual dan emosional," katanya.


sumber: Kompas.com

Peran Ayah dan Ibu Berbeda untuk Pengasuhan Anak?

Peran orangtua terhadap pertumbuhan dan kelengkapan kecerdasan anak sangat berbeda. Psikolog Roslina Verauli, MPsi, dari Klinik Empati dan RS Cengkareng, pada acara Smart Parents Conference di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa sama seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan.
Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan oleh ayah dan ibu.
Peran ibu  1. Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang jauh melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.
2. Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan-kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih dekat dengan anak, yakni berbicara dari hati ke hati kepada anak.

3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan.
Peran ayah
1. Menumbuhkan rasa percaya diri dan kompeten pada anak melalui kegiatan bermain yang lebih kasar dan melibatkan fisik baik di dalam maupun di luar ruang.

2. Menumbuhkan kebutuhan akan hasrat berprestasi pada anak melalui kegiatan mengenalkan anak tentang berbagai kisah tentang cita-cita.

3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin laki-laki, tentang bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki.
Menurut Roslina, peran orangtua dalam pengasuhan anak berubah seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Karenanya, diharapkan orangtua bisa memahami fase-fase perkembangan anak dan mengimbanginya. Menurut pakar psikologi perkembangan, Jean Piaget, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya. Sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dibutuhkan anak agar kecerdasannya berkembang sempurna.
 
sumber: Kompas.com

Pentingnya Peran Ayah Mengasuh Anak Sejak Balita

Anak membutuhkan peran dan sosok ayah, terutama mereka yang mulai beranjak remaja. Sayangnya, kehadiran ayah dalam kebanyakan keluarga tak dirasakan secara psikis meski secara fisik ia hadir di rumah. Peran pengasuhan lebih banyak dilimpahkan kepada ibu. Alhasil, saat tanda pubertas datang pada anak remaja (terutama anak laki-laki), mereka tak punya teman bicara dan tak punya panutan untuk berperilaku sesuai peran gendernya.

Anak membutuhkan ayah yang bisa merangkul sejak dirinya masih balita, dan memantau tumbuh kembangnya termasuk saat masa pubertas. Anak akan memiliki sikap terbuka kepada orangtua, jika orangtua sudah membangun kedekatan dengan anak sejak anak masih kecil.
"Jika orangtua sudah membagi peran sejak anak lahir, anak bisa mengindentifikasi peran ayah dan ibunya. Pembagian peran dimulai sedini mungkin, saat toilet training misalnya. Ayah bertugas mengajarkan anak laki-laki, dan ibu mengajarkan anak perempuannya. Kedekatan yang dibangun sejak dini membuat anak akan terbuka di kemudian hari kepada ayah atau ibunya," jelas psikolog dra M Louise, MM, Psi, saat peluncuran buku Panik Saat Puber? Say No!!! karya dr Aditya Suryansyah Semendawai, SpA, di Magenta Cafe, Pasific Place Jakarta, Rabu (6/4/2011).

Komunikasi dan hubungan ayah-anak yang dibangun sejak kecil akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Saat beranjak remaja dan mengalami pubertas, anak yang dekat dengan ayahnya takkan sungkan membicarakan masalah yang dihadapinya.
"Anak akan datang ke ayah atau ibu sesuai kebutuhannya, jika sejak kecil mereka mengenal pembagian peran orangtuanya. Anak laki-laki, saat menghadapi masalah pubertas, akan lebih terbuka berbicara dengan ayah ketimbang ibunya. Begitupun dengan anak perempuan, akan lebih nyaman membicarakan menstruasi kepada ibunya. Di sinilah pentingnya pembagian tugas ayah ibu dalam mengasuh anak sejak kecil. Karenanya ayah harus memulai bicara dengan anak sebagai teman, bulan sebagai diktator. Sebuah keluarga membutuhkan tokoh laki-laki, dalam hal ini ayah, sebagai panutan. Terutama panutan anak laki-laki dalam keluarga, supaya ia bisa belajar cara berpikir laki-laki dari ayahnya, dan berperilaku sesuai gender," lanjut Louise.

Saat anak memasuki masa pubertas, kebutuhan sosok ayah ini sangat dibutuhkan. Ayah perlu memulai pembicaraan dengan anak, mengikuti perubahan dalam diri anak, termasuk secara psikis. "Orangtua perlu bicara dengan hati, pendekatan dengan cinta," lanjut Louise, menambahkan bahwa ayah juga perlu berbicara dengan anak sesuai kebutuhannya dengan menjadikan anak remaja sebagai sahabat.

sumber:  http://female.kompas.com

Ketika Pria Berperan Sebagai Ayah

Kelahiran bayi dalam sebuah keluarga menjadi anugerah. Peran ayah tak kalah penting dengan ibu dalam merawat dan mengasuhnya. Apalagi pada enam minggu pertama sejak kelahiran, saat bayi sangat membutuhkan bantuan dan perhatian ayah-ibunya.

Butuh kesabaran dan kerja keras dengan ketulusan dan suka cita untuk menjalani masa tak terlupakan ini, tentu saja dengan kondisi Anda dan suami memutuskan mengurus sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi. Sudahkah suami Anda berperan besar membantu Anda mengurus bayi? Berikut tanda-tandanya:

Bangun di malam hari dan tidur lelap di sela waktu
Waktu tidur Anda dan suami berubah drastis saat mengalami masa menjadi orangtua untuk pertama kalinya. Bayi yang terbangun di malam hari, entah perlu berganti popok atau lapar dan haus, membuat Anda dan suami berganti peran mengurusnya. Jika suami menjalankan peran ini, beruntunglah Anda sebagai ibu dan istri. Dan maklumi saja jika, di siang hari atau saat ada waktunya di hari libur, suami memanfatkan waktu untuk tidur, bergantian dengan Anda tentunya. Baik Anda dan suami memang harus membiasakan diri untuk memanfaatkan kesempatan untuk tidur.
Menjadi egois
Menempatkan kebutuhan bayi sebagai prioritas utama adalah fokus Anda dan suami pada masa ini. Suami yang memainkan perannya sebagai ayah, akan dengan mudah mengatakan "tidak" kepada teman atau relasi yang mengajaknya berkegiatan saat energi sudah terkuras. Dia akan lebih memilih bersama Anda dan buah hati.

Siap sedia berurusan dengan popok
Bayi bergantung pada orangtuanya untuk makan, minum, mandi, berganti pakaian, dan berganti popok. Suami perlu terlibat memainkan perannya, dan harus siap berurusan dengan semua kebutuhan buah hati. Karena urusan ini juga menjadi tanggungjawab sebagai ayah, yang mendukung ibu paska melahirkan.
Filter informasi
Sebagai orangtua baru, Anda akan banyak menerima masukan dari teman dan keluarga. Maksud mereka tentu saja baik, berbagi pengalaman. Namun setiap keluarga memiliki karakter dan kebutuhan berbeda, termasuk seberapa besar peran ayah. Coba kenali peran suami, apakah dia rajin mencari informasi, atau bahkan mencari referensi bacaan untuk menjadi ayah? Jika iya, ajak juga diskusi karena semua informasi yang didapatkan perlu disaring sesuai kondisi keluarga Anda di rumah.

Tak lagi gengsi
Bayi Anda akan membutuhkan waktu bersama ibunya, untuk menyusui atau lainnya. Jika persediaan popok habis, suami yang belajar berperan sebagai ayah takkan sungkan mengambil peran. Misalnya berbelanja kebutuhan bayi di supermarket. Antre di kasir dengan tumpukan popok bukan hal yang membuatnya malu, justru bangga berperan sebagai ayah dari buah hatinya.

Menjalani peran tanpa beban
Suami tak terlalu menganggap serius, apalagi menjadikan peran ayah sebagai beban. Ini pertanda baik. Dia menyelipkan suka cita dan humor di dalam perannya sebagai ayah. Artinya suami menyenangi perannya, dan sepenuh hati menjalankan tanpa beban atau paksaan. Peran seperti inilah yang dibutuhkan, karena bagaimanapun peran lengkap dari ayah dan ibu di masa awal pertumbuhan anak akan mempengaruhi bagaimana buah hati bertumbuh nantinya. Suami menikmati peran sebagai orangtua muda, mengurus semua kebutuhan bayi bersama. Anda dan suami akan merindukan masa ini ketika anak sudah dewasa nantinya, saat mereka mandiri dan tak lagi bergantung kepada orangtuanya.

sumber:  http://female.kompas.com

Ayah bukan Hanya "Figuran" di Keluarga

Para ayah punya peran penting dalam keluarga, terutama dalam pengasuhan anak. Menjadi seorang ayah harus profesional, peduli, perhatian dan hadir secara utuh dalam keluarga, bagi anak-anak juga pasangannya. Ayah juga harus memainkan peran sebagai pelaku utama, bukan hanya figuran dalam keluarga.

Inilah pesan yang disampaikan Ketua Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA),  Dr Seto Mulyadi, di sela pembukaan Indonesia Maternity Baby & Kids Expo di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jumat (11/11/2011) lalu.

Kepada Kompas Female, ayah empat anak yang akrab disapa Kak Seto ini menjelaskan pentingnya peran ayah bagi anak-anak dan pasangan, dalam membangun sebuah keluarga.

"Penelitian di luar negeri menunjukkan para pelaku kriminal presentasi terbesarnya adalah orang yang tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Ayah harus menjadi pelaku utama bersama ibu, bukan figuran, dalam keluarga," kata Kak Seto yang mengaku keempat anaknya memiliki kedekatan emosi yang kuat dengannya lantaran hubungan ayah-anak telah dibangun sejak belia melalui komunikasi yang baik.

Kak Seto melanjutkan, dari data yang masuk ke Komnas PA, 80 persen pelaku kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak adalah para ibu, dengan adanya kontribusi dari ayah. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, terjadi bukan karena ibu yang jahat, tetapi karena ayah yang tidak peduli, tegasnya.

Mengapa ayah perlu peduli?
Kehadiran ayah secara nyata di rumah, berdampak bukan hanya kepada psikologis anak namun juga ibu. Sosok ayah dibutuhkan oleh anak laki-laki, juga anak perempuan. Ibu juga membutuhkan peran ayah dalam pengasuhan untuk menimbulkan rasa aman, kebersamaan, dan pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan. Bahkan, kehadiran peran ayah di rumah secara utuh juga memperkokoh nilai perkawinan, jelas Kak Seto.

"Dari segi psikologis, anak membutuhkan model perilaku maskulin dari ayahnya. Anak perempuan pun membutuhkan model ini untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi pasangan hidup nantinya," tambahnya.

Anak perempuan dapat lebih mampu memahami perilaku laki-laki karena kedekatan yang terbangun antara dia dengan sang ayah. Kedekatan hubungan ayah dengan anak-anak juga berperan penting bagi pasangan dan hubungan pernikahan. Ibu yang merasa dibantu dalam menjalankan peran pengasuhan menimbulkan perasaan lebih aman dan nyaman, yang berpengaruh pada keharmonisan keluarga.

Menguatkan pernikahan

Kepedulian ayah terhadap keluarga menjadi penting untuk menguatkan perkawinan, kata Kak Seto. Selain itu kedekatan hubungan ayah dengan seluruh anggota keluarganya, mengembangkan rasa percaya diri ayah.

"Tidak ada gunanya sukses di luar, namun saat kembali ke rumah, ayah tak dekat dengan anak. Mendapat pengakuan di rumah, apalagi dari anak-anak penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seorang ayah," lanjutnya.

Menjadi ayah harus profesional, tegas Kak Seto. Langkah awalnya adalah dengan membangun kedekatan bersama anak-anak. Jangan pernah menjadikan keterbatasan waktu atau kesibukan bekerja sebagai alasan untuk tak dekat dengan anak. Karenanya kemampuan manajemen waktu menjadi penting dimiliki setiap ayah.

Komunikasi sejak dini

Untuk menjadi ayah yang peduli dan profesional, langkah awalnya mulai membiasakan kekuatan verbal, membangun komunikasi dengan anak sejak dini. Dengan begitu, anak akan terbuka berbicara dan mengungkapkan pikiran dan ekspresinya kepada orangtuanya.

Jika ingin menyontoh Kak Seto, bacakan dongeng kepada anak sejak dini. Kemampuan berdialog antara orangtua-anak semakin berkembang dari kebiasaan membacakan dongeng ini. Atau Anda dan pasangan punya cara lainnya?

sumber:  http://female.kompas.com