Dalam budaya Jawa, tempe menyimbolkan hidup prasaja (sederhana), yaitu sikap batin yang sadar akan rasa cukup—tidak berlebihan dan tidak kekurangan.
Kedelai tidak bisa langsung dikonsumsi menjadi tempe secara instan; ia harus melalui proses perendaman, perebusan, pemberian ragi, hingga fermentasi yang sabar. Ketika digoreng, tempe mengalami transformasi akhir matang yang sempurna. Hal ini mencerminkan falsafah hidup bahwa manusia matang dan bernilai melalui sebuah proses, tempaan, serta waktu (wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana).
Dalam tradisi keluarga Jawa, pembuatan tempe dulu memerlukan gotong royong suami-istri (kaum laki-laki merebus dan mengupas, perempuan membungkus dan merawat proses raginya), yang menyimbolkan keharmonisan rumah tangga (Yen atine becik, tempene apik).
Memang kehidupan seperti sepiring tempe, tidak ada satu pun yang tahu. Tapi kita tahu siapa membuat penuh piring kehidupan kita. Salam kriuk kres!