Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Saturday, May 2, 2020

SUMPIA ABON


"Jadi mau ngepel dulu atau bikin sumpia nih?" Tanya Mami, lalu pumpkin yang masih sibuk nonton kartun menjawab cepat, "bikin sumpia ajalah, ngepelnya nanti aja." "Ya udah, ayuk kalau gitu Kita mulai ya sekarang." Jawab si Mami lagi. Saya mendengarkan perbincangan mereka sambil menjadi kaum rebahan terbaik dan memperhatikan hape saja. Kemudian mulailah kesibukan mereka berdua. Tiba-tiba diantara perbincangan dapur itu saya dipanggil, "papi..tolongin dong foto kita berdua, mumpung lagi on proses nih!" Baiklah, cepat saya ambil hape si Mami yang kameranya hasilnya lebih bagus dari punya saya, dan
segera mengambil beberapa angle foto yang dirasa instagramable lah nanti. Lalu saya lanjutkan rebahannya, ahahaha! Sambil nunggu mateng sih sebenarnya.

Saya menyukai momen hari ini, momen baik pas hari pendidikan. Maminya mengajari sebuah ketrampilan hidup, memasak. Sesuatu yang pasti nanti kelak akan berguna untuk kehidupan si Pumpkin. Meskipun saya tahu, memasak bukan hal yang mudah buat Mami tapi saya yakin, kegiatan ini juga membuatnya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Kata mbah Aristoteles, "Pendidikan adalah bekal terbaik untuk perjalanan hidup." Semoga si Pumpkin mendapatkan pendidikan dan bekal yang baik dirumah ya. Semoga! Eh, sumpia isi abonnya kriuk kries endes lho...sumpiah deh. Beneran enak, nggak kalah sama kalau yang beli-beli di tempat oleh-oleh. Bahkan Oma juga ikut merasakan dan memberikan penilaian yang mantap. Alhasil, hanya dalam waktu sekejap habislah itu sumpia. Eniwei selamat hari pendidikan ya, teruslah mendidik dan mengajar anak-anak Kita, kata-katanya Ki Hajar Dewantara sekarang lagi manjur banget, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Pendidikan tak berhenti di bangunan sekolah saja, tapi juga di rumah, di jalan, dan di mana-mana." Gitu!

Wednesday, April 1, 2015

Top Ten Ways to Teach Values to Your Kids by Mark Brandenburg

In a consumer-driven society that broadcasts values that don’t reflect what you believe, how can fathers teach values to their kids? Here are ten ideas to help you:
  1. how to teach kids values Tell them your life stories and teach through your stories
    Kids love to hear stories about your childhood. Weave in some moral dilemmas and you’ve got great opportunities to teach values to them. It certainly beats lecturing your kids!

  2. Live your own life according to your values—walk the talk.
    Kids learn by imitating, especially at a young age. They are very adept at seeing if what you say and what you do are matching up. Don’t give them confusing signals; follow your own values every moment.
  3. Expose them to your religion or faith
    It seems especially important today to let them know that they’re not alone. Providing your kids with a community of faith will strengthen their values and provide parents some “leverage”
  4. Pay attention to who else might be teaching values to your kids
    Get to know your child’s teachers, coaches, relatives, etc. Anyone who spends time with your kids may be influencing them. Know their values and beliefs as well.
  5. Ask your kids questions that will stimulate dialogue about values
    Telling them what values they should have won’t always be effective, especially when your kids get older. Asking them “curious” questions will allow discussions that will eventually lead to values. “What did you think about that fight,” may be more effective than, “He shouldn’t have started that fight!”
  6. Talk to them about values in a relaxed and easy way
    Nothing will turn your kids off more than preaching values to them after they’ve screwed up! Talk to them when everyone’s relaxed, and do it in a light, conversational manner. They’ll be much more likely to be listening rather than tuning you out.
  7. Read them fairy tales when they’re younger
    Fairy tales capture the imagination of kids and can easily lead to a discussion of values. Kids will learn the most concerning values when they’re excited about the topic.
  8. Involve your kids in art, activities, or helping others while limiting TV and video games
    Kids learn values when they experience them. Allow them to experience helping others and involve them in activities that will expand their creativity.
  9. Have frequent conversations about values in your household
    This lets your kids know that it’s important and it’s not just something you talk about when they do something wrong.
  10. Have high expectations for your kids’ value systems
    Kids will tend to rise to the level of expectation you have for them. Their value system will often reflect yours if the expectations are high.

    http://www.thoughts-about-god.com

Wednesday, January 7, 2015

Ayo Berikan Lebih Banyak Pelukan ke Anak

Tahun baru selalu identik dengan resolusi baru. Banyak orang membuat resolusi untuk dijalankan sepanjang tahun 2015. Resolusi tersebut bisa terkait kehidupan sehari-hari, keuangan, bahkan dalam hal pengasuhan anak.

Kira-kira resolusi pengasuhan anak apa yang bisa dipertahankan dan diubah di tahun ini. Berikut paparannya, seperti  dilansir dari laman Huffingtonpost.

Kurangi berteriak

Sangat sulit untuk menjaga nada normal ketika anak berbuat ulah. Misalnya saat ia mencoret tembok, saat anak tak mau mandi atau ketika ananda tak mau makan. Rasanya kesabaran membujuk dengan nada normal sudah habis dan berteriak menjadi solusinya.

Tapi, tahun ini sebaiknya Anda kurangi kebiasaan berteriak. Cobalah lebih sabar menghadapi anak Anda dan berbicara pada anak dengan nada normal. Jika sedang marah dan ingin berteriak, tariklah napas dalam-dalam, kemudian hempaskan. Lalu berusaha bersikap wajar. Karena anak akan lebih mendengarkan Anda jika Anda berbicara lebih halus tanpa teriak.

Lebih sering memuji anak

Jika anak berbuat sesuatu yang benar dan Anda menyukainya, tak ada salahnya Anda memujinya. Lebih sering memuji akan membuat anak termotivasi melakukan hal baik selanjutnya karena merasa senang mendapatkan pujian dari Anda. Misalnya, ketika anak membereskan mainannya, katakan padanya,”Wah anak pintar, membereskan mainnya sendiri.” Atau ketika anak sedang mau makan dan lahap. Berikan pula pujian padanya.

Berikan banyak pelukan

Seberapa sering Anda menyentuh anak tahun lalu? Terkadang Anda sering melupakan tindakan sederhana seperti memeluk anak ini. padahal dengan pelukan anak Anda akan merasa nyaman, terlindungi dan disayang oleh orang tuanya. Selain itu, hormon oksitosin dari pelukan juga memberikan manfaat baik, anak yang pemarah akan berubah menjadi penyayang jika orang tua sering memberikan pelukan.

Katakan cinta setiap saat

Selain bentuk tindakan, bentuk perkataan yang baik dan lembut juga akan menyentuh hati anak Anda. Rajin-rajinlah mengatakan Anda mencintai dan menyayangi buah hati Anda. Jika perlu setiap pagi dan malam hari. Ketika anak baru bangun tidur dan menjelang tidur. Ini akan membuat anak merasa nyaman. Katakan ketika Anda sedang berdua dengan anak.

http://www.republika.co.id

Tuesday, December 16, 2014

Ancaman dan Hukuman Justru Memicu Anak Berbohong

Jika Anda ingin anak selalu berkata jujur, cara terbaik bukan dengan memberikan ancaman atau hukuman jika mereka berbohong.

Kesimpulan itu didapat melalui penelitian yang melibatkan 372 anak berusia antara 4-8 tahun. Para ahli menemukan bahwa anak tidak akan berkata jujur jika mereka takut atau dihukum. Mereka justru akan memilih untuk berbohong agar orang tua merasa senang sehingga mereka pun akan merasa lega.

"Pokoknya, hukuman tidak akan membuat anak berkata jujur," kata kepala penelitian Victoria Talwar dari McGill University, seperti dikutip dari Times of India.

"Faktanya, ancaman dan hukuman memiliki dampak yang justru tidak diharapkan. Anak akan merasa takut untuk berkata jujur," katanya.

Dalam studi itu, tim peneliti menempatkan seorang anak di dalam sebuah ruangan selama 1 menit bersama dengan mainan yang diletakkan di belakang mereka. Anak-anak diminta untuk tidak berbalik atau mengintip mainan tersebut.

Sebuah video kamera tersembunyi merekam perilaku mereka. Ketika para ahli kembali, anak-anak ditanyakan apakah mereka mengintip atau tidak. Ketika ditanya apakah mereka mengintip, 67% anak berbohong.

Peneliti menemukan anak yang lebih kecil cenderung berbohong untuk membuat orang dewasa merasa senang, sedangkan anak yang berusia lebih tua merasa harus jujur karena mereka sadar itu adalah tindakan yang benar.

"Informasi ini sangat berguna bagi para orang tua dan tenaga pengajar agar mendorong anak untuk senantiasa berkata jujur," kata Talwar. Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Experimental Child Psychology. 

http://rona.metrotvnews.com 

Friday, December 5, 2014

Stop Memuji Anak Terlalu Berlebih, Ini Dampaknya

Memuji anak memang suatu hal penting, tetapi ketika memuji anak terlalu berlebih, hal ini malah akan berdampak buruk bagi mental dan perkembangan anak. Berikut hal-hal yang dapat terjadi ketika orangtua terlalu berlebihan saat menyanjung anak.

1. Memanipulasi anak
Pujian adalah ekspresi menggambarkan bersikap saat seseorang mencapai sesuatu sesuai kehendak masing-masing. Nah, jika Anda teralu banyak memuji, anak akan mengharapkan pujian atau sanjungan bukan hanya dari Anda, tetapi juga dari orang lain. Hal ini akan membuat mereka jadi arogan, atau malah sebaliknya kurang percaya diri jika tak ada yang memujinya.

2. Menurunkan minat
Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang dipuji atas perbuatan yang dilakukannya, malah akan kekurangan minat pada hal itu. Teori ini juga berlaku pada anak-anak, jangan sampai pujian berlebih dari Anda malah membuatnya cepat puas dan mudah beralih perhatian sehingga menyebabkan mereka tidak fokus.

3. Berbunyi sarkasme
Salah-salah ketika Anda terlalu banyak memuji anak, ungkapan yang Anda berikan malah terdengar seperti sebuah sarkasme atau ejekan. Terutama bila anak merasa perbuatannya tak seharusnya dipuji, atau tak puas dengan hasil pekerjaanya. Berkata jujur jauh lebih baik untuk membangun semangat anak yang lebih positif.

4. Membebani anak
Studi terbaru mengungkapkan ketika anak dipuji saat melaksanakan sebuah tugas, ia malah akan mudah gagal karena beban psikologis yang dirasa untuk harus tampil sempurna dan memenuhi pujian yang telah diterima.


Namun, bukan berarti ayah dan ibu jadi pelit pujian pada anak. Intinya, berikan pujian dan sanjungan yang pantas serta tulus untuk si kecil. Dengan demikian, mereka juga jadi bisa membedakan mana prestasi yang benar-benar membanggakan dan mana yang tidak. 

http://female.kompas.com

Thursday, October 23, 2014

Ayah yang Ringan Tangan Miliki Anak Perempuan Pintar dan Sukses

Kesuksesan dan cara berpikir anak memang tergantung pada pola asuh serta pendidikan yang diberi oleh orangtua. Namun, sebuah penelitian mengatakan perilaku positif ayah juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan anak perempuan. Berikut Uraiannya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Psychological Science melaporkan, para ayah yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah kemungkinan besar akan menghasilkan anak perempuan yang mau bekerja keras dan berambisi dalam pendidikan.

Umumnya, pekerjaan rumahtangga selalu dikaitkan dengan tugas wanita. Namun, seiring waktu, anggapan itu sudah sedikit memudar di masyarakat, tetapi demikian, jumlah wanita yang menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan domestik seorang diri masih tinggi.  Padahal, ayah yang ringan tangan memiliki dampak positif pada tumbuh kembang anak perempuan.
Kondisi di mana ayah dan ibu saling bekerjasama di rumah membangun pikiran bahwa anak perempuan memiliki ruang dan waktu untuk mengejar cita-cita mereka, sebab kelak ada suami yang turut meringangkan tugas domestik.

"Meskipun kami telah melakukan upaya terbaik guna menciptakan kesetaraan di tempat kerja. Wanita masih sangat kurang terwakili dalam posisi kepemimpinan dan manajerial," kata Alyssa Croft, kandidat doktor di University of British Columbia kepada Asosiasi Ilmu Psikologi seperti dikutip Good Housekeeping.

Menurut Croft, studi ini sangat penting, sebab hasil studi menyarankan pentingnya membangun kesetaraan jender mulai dari lingkungan rumah.  Sebab, hal yang demikian dapat menjadi salah satu cara untuk menginspirasi para perempuan muda dalam menata rencana dan pandangan terhadap karir mereka di masa mendatang.

http://female.kompas.com/

Friday, September 19, 2014

Di Balik Kecerdasan Anak Ada Orangtua Kreatif

angan asal buat aturan dan perintah untuk anak agar rajin belajar. Sebab, sebagai orangtua, Anda juga harus kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang mengasyikkan untuk si kecil. Bagaimana caranya?

Umumnya, program pendidikan dini seperti preschool dan Taman Kanak-kanak (TK) menawarkan sejumlah kurikulum yang kental dengan unsur seni. Ternyata, menurut sebuah penelitian, pelajaran seni pada anak balita ampuh dalam merangsang dan menstimulasi otak buah hati Anda untuk berpikir cerdas.

“Seni meningkatkan dan memudahkan proses belajar,” ujar Eric Jensen, peneliti dan penulis Arts with the Brain Mind.

Menurut penelitian Jensen, anak-anak yang sedari kecil familiar dengan melukis, bermain musik, dan sebagainya, memiliki nilai akademis tinggi. Ini dibuktikan dengan daya tangkap otak mereka yang lebih mudah dalam mencerna serta menyimpan informasi.

Selain itu, pendidikan seni sedari kecil tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan inovatif pada bidang yang mereka minati.

Nah, untuk memperkenalkan seni pada anak sedari kecil, orangtua haruslah berpikir kreatif. Anda harus cerdik dalam membiasakan anak untuk belajar dengan cara dan gaya yang menyenangkan.
Salah satunya adalah menyediakan sebuah kantung besar berisi alat-alat gambar, kertas kosong, spidol, lem, gunting, kapas, dan kertas origami. Kemudian, beri waktu pada anak untuk membiarkannya “bermain” dengan apapun yang mereka pilih dari dalam kantung tersebut.
Selanjutnya, hargai karya anak dengan cara menggantungkannya di depan pintu kamar, pintu lemari es, atau di tangga. Sebab, melihat hasil karyanya dihargai oleh Anda, bisa memicunya untuk terus menggali kemampuan demi memberikan karya yang lebih baik.

http://female.kompas.com

Friday, August 22, 2014

Begini Cara Ajarkan Rasa Hormat Pada Anak

Senang ya, jika melihat anak kecil bersikap sangat sopan dengan orang di sekitarnya. Sudahkah anak Anda melakukannya?
Saling menghormati merupakan salah satu kunci hidup harmonis antar sesama. Mengajarkan hal ini pada anak bukanlah hal mudah. Jangan sampai anak memaknai kata “hormat” sebagai sesuatu yang menakutkan atau hanya berlaku jika berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Berikut beberapa strategi untuk membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat yang lebih besar terhadap orang lain.

Jadilah contohAnak-anak merupakan peniru ulung. Mereka bisa dengan cepat meniru sikap dan perilaku Anda. Jika Anda ingin memberikannya contoh bagaimana menghormati sesama, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan selalu bersikap dan berbicara kepada anak dan orang lain dengan cara hormat.
Misalnya ketika anak ingin mendiskusikan perasaannya (curhat). Cobalah mendengarkan dengan penuh perhatian.

Amati perilaku anak
Apakah ia sudah melakukan hal yang benar sesuai dengan yang Anda ajarkan. Jangan sampai ia berpikir bahwa hal ini hanya bersifat sementara. Katakan dengan tegas kalau itu berlaku seumur hidup.

Buat aturanAda tiga kata kunci yang harus diucapkan anak dalam pelajaran menghormati orang lain ini. Yaitu, meminta “minta maaf” segera setelah melakukan kesalahan, mengucapkan “terima kasih” meski itu untuk sebuah pertolongan kecil, dan “tolong” ketika meminta bantuan kepada orang lain.
Aturan lainnya seperti tidak berkata kasar, mendengarkan dengan seksama lawan bicara (tidak sambil membaca buku main games, atau menonton televisi), tidak menyela saat orang lain sedang bicara, mengucapkan salam saat bertemu/berpisah.

Jika aturan dilanggar:
- Ajak anak diskusi. Ketika anak berkata sarkastik, minta ia memikirkan cara-cara yang lebih terhormat untuk mengkomunikasikan pikiran atau perasaannya.
- Dorong empati. Ajak anak membayangkan jika ia yang mendapatkan perlakuan tidak hormat dari orang lain.

Tips
- Jadilah konsisten ketika mengajar anak-anak berperilaku hormat.
- Beberapa anak mungkin butuh lebih banyak waktu untuk belajar bagaimana berperilaku hormat. Maka dari itu, bersabarlah... (Ester Sondang)

http://female.kompas.com/

Wednesday, July 9, 2014

Kiat Mengasuh Anak Tunggal Supaya Tidak Manja

Anak tunggal umumnya mendapatkan perhatian ekstra dari orang tuanya. Alhasil, tak sedikit anak tunggal tumbuh dewasa menjadi  manja dan memiliki perilaku yang kurang menyenangkan.
Sebagai orang tua, tentunya Anda menginginkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan menyenangkan, baik untuk dirinya sendiri, juga bagi lingkungan sosialnya. Dengan demikian, simak uraian mengenai pola asuh membesarkan si anak tunggal, seperti dikutip Boldsky.

1. Terapkan aturan
Untuk menghindari kebiasaan memanjakan anak tunggal, maka orang tua perlu membuat peraturan  pada anak. Orang tua harus berani tegas mengatakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Seiring dengan itu, jangan pernah lelah untuk memberikan pemahaman dan pengertian mengenai manfaat baik dari aturan yang Anda terapkan pada si kecil. Tujuannya, agar anak menjalani aturan tanpa paksaan dan tekanan.

2.Turuti peraturanMenaati peraturan tak semudah menciptakannya. Namun, sebagai orangtua yang ingin anak tunggalnya tumbuh menjadi sosok yang mandiri, maka Anda sendiri juga harus memberikan contoh positif pada si kecil, dengan cara menaati peraturan yang Anda terapkan padanya. Melihat Anda menuruti aturan, anak pun secara alamiah akan mengikuti sikap Anda tersebut.

3.Bijak menuruti keinginan anak
Salah satu “ujian” terberat orangtua dengan anak tunggal adalah saat si kecil merajuk minta dibelikan sesuatu.  Jika terjadi hal yang demikian, beri waktu pada diri Anda untuk mempertimbangkan keinginannya tersebut. Selama sesuai dengan kebutuhan akademisnya, turutilah. Namun, jika sebaliknya, Anda harus menahan diri. Ingat saja, boros di waktu sekarang bisa membuahkan kesulitan di masa depan.

4.Tanggung jawab
Berikan tanggung jawab pada anak sebagai upaya pendewasaan diri. Mulailah dengan hal mudah seperti membantu Anda di dapur, merapikan kamar dan lemari bajunya, atau merawat hewan peliharaan. Ketika si kecil berhasil menyelesaikan seluruh tugas serta tanggung jawabnya tersebut, Anda jangan lupa mengucapkan terima kasih. Ini merupakan cara praktis dalam mengajarkan rasa menghargai dan pentingnya memberikan apresiasi pada lingkungan sekitar.

5.Dukungan emosional
Menjadi anak tunggal bukanlah hal mudah, tumbuh tanpa saudara kandung untuk berbagi cerita dan tawa, acap kali menimbulkan rasa kesepian pada sang buah hati. Namun, Anda bisa mencegahnya dengan cara menjadi orangtua sekaligus sahabat untuk si kecil. Tentu saja dengan cara yang bijak, supaya anak tidak  manja dan terlalu bergantung pada orangtua.

http://female.kompas.com

Orangtua Jangan Selalu Merasa Lebih Pintar dari Anak

Saat berkomunikasi dengan anak, banyak orangtua yang berpikiran lebih pintar, lebih jago, dan lebih segalanya daripada anak. Mengapa komunikasi merasa lebih pintar itu tidak tepat? Sebab, anak merasa seolah-olah digurui, tidak dihargai, dipermalukan dan direndahkan oleh orangtua.

Misalnya dengan membandingkan anak-anak kita dengan kita dulu. Tugas kita adalah selalu membimbing dan mengarahkan mereka agar tidak salah jalan dan tetap berpegang pada nilai-nilai moral.

Selain itu, ada bentuk komunikasi lain yang perlu dihindari orangtua, itu adalah:

* Hindari perkataan kasar
Menghindari perkataan kasar yang membuat emosi jadi tidak terkendali. Perhatikan intonasi suara. Aturlah nada suara agar tetap teratur, lembut dan tenang. Apabila anak mulai menjengkelkan usahakan tetap tenang dan jangan terpancing emosi, apalagi memukul karena kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru.

* Lihat situasi saat berdiskusi
Hindari mendiskusikan masalah dengan anak saat anak sedang lelah atau rewel. Orangtua sebaiknya mengetahui suasana hati dan jalan pikiran anak-anaknya.

* Jangan bandingkan dengan pola lama
Orangtua hendaknya tidak bersikap otoriter dan memakai “kacamata kuda” dengan pola tradisi lama di mana kita takut untuk mengungkapkan pandapat, terutama kepada orang tua karena anak-anak saat ini sudah mulai lebih memiliki kreativitas, penuh daya cipta, penuh argumentasi, punya cara pandang yang luas.

http://female.kompas.com

Monday, June 9, 2014

Mau, Menjadi Orangtua Luar Biasa?

Apakah Anda sudah menjalani apa yang dilakukan orangtua luar biasa kepada anak dan keluarganya? Jangan dulu merasa hebat sebelum Anda mengenali 12 ciri orangtua luar biasa ini dalam diri Anda. Grown dan Flown, penulis buku Goldman Sachs: The Culture of Success memaknai orangtua luar biasa sebagai berikut:

1. Orangtua hebat memaknai pernikahan bukan hanya milik berdua, tapi merupakan sumber keteladanan bagi anak-anaknya. Karenanya orangtua sudah semestinya mencontohkan cara mengelola amrah, cara menunjukkan afeksi, caranya bertoleransi, bagaimana berbuat baik, karena anak akan merekam semua hal ini dari orangtuanya.
2. Orangtua hebat menyadari bahwa dunia akan terus berputar, dan mereka selalu mampu menjalaninya tanpa kehilangan arah. Dengan begitu, anak-anak mereka pun takkan kehilangan arah karena kalau orangtua kebingungan menghadapi apa yang terjadi dalam hidupnya, anak-anak pun akan mengalami hal yang sama.

3. Orangtua hebat punya perhatian besar terhadap apa yang menjadi passion anak-anaknya. Mereka menunjukkan kepedulian dan kasih sayang pada anak, dan selalu mencari cara untuk meningkatkan bonding. Orangtua hebat juga selalu mau belajar untuk memasuki dunia anak-anaknya, untuk menunjukkan pada anak-anak mereka bahwa menghargai dan mendukung apa yang anak mereka lakukan dan sukai.

4. Orangtua hebat punya "hubungan sehat" dengan keuangan, makanan. Mereka menjadi tempat belajar anak mengenai cara menghargai uang, cara mengonsumsi makanan yang baik, dan ini menjadi bekal penting saat anak tumbuh dewasa dan hidup mandiri nantinya.

5. Orangtua hebat memiliki hubungan yang terjaga baik dengan saudara-saudara kandungnya, kakak-adiknya, keluarganya. Mereka mencontohkan bagaimana hubungan baik dalam keluarga harus terus terjaga dan merupakan hal penting yang sangat memengaruhi kehidupan, termasuk kehidupan anak-anaknya nanti.

6. Orangtua hebat tak pernah menonjolkan kehebatannya. Mereka tidak ingin selalu merasa benar dan hebat, apalagi di depan anak-anaknya. Kredibilitas lebih penting ketimbang ego yang tinggi.

7. Orangtua hebat selalu memiliki antusiasme dalam menjalankan pengasuhan, sejak anak dilahirkan sampai dewasa.

8. Orangtua hebat mengajarkan anak-anaknya untuk berusaha mandiri menggali potensi, menunjukkannya, dan memberikan kontribusi sebagai pribadi dengan potensi yang dimilikinya. Mereka mendorong anak-anaknya untuk mengasah kemampuan diri, meski kadang harus membuat anak marah atau membuatnya dibenci oleh anak-anaknya sendiri. Namun hasilnya, anak belajar mengenai kerja keras dan fokus pada potensi diri.

9. Orangtua hebat melewati masa di mana anak-anak marah bahkan benci kepada mereka. Namun justru momen inilah yang menunjukkan mereka telah menjalankan tugas pengasuhan dengan baik. Momen ini takkan menghentikan orangtua hebat untuk selalu berbesar hati terhadap anak-anaknya, dan takkan pernah mundur untuk selalu menjadi pendamping dan pebimbing bagi keluarganya.

10. Orangtua hebat menyadari dan memahami kecemasan yang anak-anak mereka rasakan. Mereka akan merespons masalah yang terjadi pada anak-anak, tanpa rasa panik, namun justru memberikan perhatian penuh.

11. Orangtua hebat selalu mau beradaptasi dengan anak-anaknya, dan berlaku adil tak pernah memperlakukan anak-anak secara berbeda.

12. Orangtua hebat tak pernah kebingungan memisahkan siapa orang dewasa, siapa anak-anak, siapa yang memegang kendali dan tanggung jawab. Artinya, di tengah perselisihan apa pun, saat mengalami kondisi sulit apa pun, orangtua selalu berada terdepan mengendalikan situasi dengan cara-cara yang adil. Bukan hanya memihak dirinya, namun memerhatikan kebutuhan keluarganya. Menunjukkan ketegasan yang mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari anak-anaknya.

http://female.kompas.com

Tuesday, June 3, 2014

Cara Mengasuh Tentukan Rasa Percaya Anak Balita kepada Orangtua

Kepada siapa anak Anda mengungkapkan pikiran dan perasaannya saat mengalami suatu peristiwa menyenangkan atau menyedihkan? Kepada Anda selaku orangtuanya atau kepada orang lain, pengasuh, kakek, nenek, teman, atau orangtua temannya?

Kalau anak tak segera datang kepada Anda selaku orangtuanya untuk mengekspresikan emosinya, tandanya kepercayaan anak terhadap orangtuanya tak terbangun dengan baik. Karenanya kepercayaan anak kepada orangtua perlu ditumbuhkan, oleh orangtua, sejak anak masih balita.

Pendiri Resourceful Parenting Indonesia, Dr Andyda Meliala, mengatakan rasa percaya anak adalah bekal penting agar di kemudian hari anak bisa berkomunikasi dengan baik kepada orangtuanya.

Menurutnya, rasa percaya ini dapat ditumbuhkan sedari dini, sejak masih bayi. Caranya, orangtua merespons kebutuhan bayi yang hanya bisa mereka sampaikan dengan menangis.

Umumnya ada tiga kebutuhan bayi, ia merasa lapar atau haus, bosan, atau popoknya basah. Bayi akan menangis jika merasakan salah satu atau ketiga hal tersebut. Kalau orangtua selalu merespons dengan berkomunikasi kepada bayi, lalu memenuhi kebutuhan bayi dengan tanggap, maka yang terjadi adalah orangtua tengah menumbuhkan rasa percaya anak kepadanya.

Orangtua yang tanggap memenuhi kebutuhan anak sejak bayi menumbuhkan rasa percaya, yang kemudian terkait dengan kepercayaan diri anak dan penghargaan anak terhadap dirinya sendiri.

"Anak perlu tahu kalau ia dicintai tanpa syarat," kata Andyda.

Terpenuhinya kebutuhan anak, terutama saat balita, dengan tanggapan cepat dari orangtuanya membuat anak merasa dicintai.

"Anak akan merasa berharga. Orangtua yang cepat tanggap merespons tangisan bayi misalnya, dan segera memenuhi kebutuhan bayi, tidak lantas membuat anak menjadi manja. Justru anak bisa mengatur dirinya di kemudian hari karena kebutuhannya selalu terpenuhi sejak bayi," tuturnya.

Kebiasaan orangtua yang tanggap memenuhi kebutuhan bayi juga membangun ikatan batin kuat antara orangtua dan anak. Ikatan inilah yang terus tumbuh hingga anak tumbuh besar. Hubungan yang kuat membuat anak akan selalu datang ke orangtuanya setiap kali mengalami masalah.

Monday, April 14, 2014

Orangtua Wajib Penuhi 3 Kebutuhan Utama Anak

Anak tumbuh dan berkembang secara fisik dan mental. Agar masa tumbuh kembang ini optimal, orangtua perlu memastikan terpenuhinya kebutuhan utama anak.

Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Soedjatmiko menyebutkan ada tiga kebutuhan utama anak pada masa tumbuh kembang, antara lain:

1. Fisik-biologis
Berupa kebutuhan akan nutrisi (ASI, Makanan Pengganti ASI/MP-ASI), imunisasi, serta kebersihan fisik dan lingkungan. Ketiga kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan pokok yang saling terkait.

"Asupan gizi terutama dalam lima tahun pertama dalam kehidupannya balita adalah periode pertumbuhan yang penting yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Kunci asupan zat gizi yang baik adalah makanan yang sehat dan bervariasi," paparnya.

2. Emosi
Berupa kasih kasih sayang, rasa aman dan nyaman, dihargai, diperhatikan, serta didengar keinginan dan pendapatnya. Hal inilah yang diharapkan akan diperoleh anak ketika orangtua merayakan momen tumbuh kembang. Kebutuhan ini memiliki peran yang sangat besar pada kemandirian dan kecerdasan emosi anak.

3. Stimulasi
Stimulasi mencakup aktivitas bermain untuk merangsang semua indera, mengasah motorik halus dan kasar, melatih ketrampilan berkomunikasi, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Stimulasi ini harus diberikan sejak dini karena memiliki pengaruh yang besar pada ragam kecerdasan atau multiple intelligences.

http://female.kompas.com/

Wednesday, April 9, 2014

Pelajaran Penting yang Didapat Anak dari Bermain

Salah satu hal yang paling susah dilakukan para orangtua adalah memisahkan anak dari mainan dan juga mengurangi waktu bermainnya. Semua ini dilakukan karena aktivitas ini dianggap buang-buang waktu dan tak bermanfaat oleh orangtua.

Ironisnya, kegiatan bermain kini semakin kehilangan pamor, dianggap ketinggalan jaman dan tidak berguna. Penelitian yang dikemukakan oleh Golinkoff, Hirsh-Pasek, Singer, pada tahun 2006 menunjukkan waktu bermain anak-anak kini sudah semakin berkurang. Di tahun 1981, waktu bermain anak-anak berkurang 40 persen. Dan di tahun 1997, waktu bermain anak-anak berkurang lagi menjadi 25 persen.

"Kalau dihitung-hitung, kegiatan belajar anak-anak SD sekarang ini bisa berlangsung lebih dari delapan jam sehari. Selama sekian jam lamanya mereka terkungkung di dalam ruang kelas, istirahat di sekolah hanya 2 kali 15 menit per hari. Seusai sekolah, mereka harus mengikuti les tambahan pelajaran, atau les lainnya yang kadang bukan menjadi minat mereka. Jadi, tidak heran kalau anak-anak ini stres, jenuh belajar, dan tidak bersemangat belajar, dan prestasi akademis melorot," kata Mayke S Tedjasaputra, Play Therapist.

Setiap orang, termasuk Anda dan anak-anak pasti punya batas kemampuan untuk bisa belajar dan bekerja. Anda saja bisa bosan dan capek kalau terus-terusan bekerja. Suatu saat Anda juga pasti ingin bersantai dari rutinitas, apalagi anak-anak yang dunianya penuh dengan mainan? Agar hidup lebih bahagia dan sehat, semua orang membutuhkan keseimbangan hidup, antara kegiatan belajar dan rekreasi (bermain).

Itu saja manfaat bermain? Jangan dulu beranggapan kalau bermain cuma sekadar bagian dari proses refresing saja. Lewat bermain, anak-anak juga bisa mendapat banyak "pelajaran" yang bermanfaat untuk kehidupan mereka nantinya. Bermain menimbulkan rasa senang dan menjadi sarana anak-anak untuk mengembangkan diri secara optimal.

1. Aspek fisik-motorik
Lewat bermain, energi anak akan lebih tersalurkan, dan pertumbuhan otot tubuh,  tulang, gerakan motorik kasar dan motorik halus dapat berkembang lebih baik.

2. Aspek emosional
Bermain mereka dapat menyalurkan emosi yang terpendam, meluapkan rasa tertekan atau rasa senang yang mereka rasakan. Lewat bermain, anak akan belajar cara mengatur dirinya untuk tidak memaksakan kehendaknya, beradaptasi, menjalankan kesepakatan bersama temannya, sportif, jujur, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

3. Aspek kognitif 
Dalam permainan, anak secara tak langsung akan dituntut untuk berpikir menentukan strategi yang jitu agar bisa memenangkan permainan, fokus pada apa yang dilakukan, mencari solusi ketika ada masalah yang muncul, mengorganisir teman-teman agar tercipta team-work yang solid, menghubungkan pengalaman masa lalu dengan tindakannya di masa sekarang.

4.Bahasa
Bermain ternyata juga berfungsi untuk menambah perbendaharaan kosa kata anak. Saat bermain pun, anak-anak dapat saling berbagi pengetahuan yang mereka miliki. Dengan kata lain, bermain memiliki manfaat jangka panjang bagi anak, yaitu mengasah executive function.

Jadi, jangan larang anak bermain. Sebagai orangtua sebaiknya, Anda harus mengajarkan mereka bagaimana cara membagi waktu yang tepat antara bermain dengan belajar.

http://female.kompas.com

Bermain dengan Si Kecil Dapat Membangkitkan Kreativitas Orangtua

Lupakan tekanan dan beban kerja di kantor, luangkan waktu bermain dengan si kecil tanpa ada gangguan dering telpon atau notifikasi pesan singkat di smartphone Anda.

Biarkan waktu berlalu penuh kesan bersama sang buah hati, menikmati derai tawanya, ucapan polos yang kerap salah sebut sebuah istilah, serta tatapan matanya yang mampu menumbuhkan semangat pada diri Anda. Abadikan momen berharga tersebut satu per satu dalam memori Anda, selain mengharukan untuk diingat di masa yang akan datang, ternyata bermain bersama anak bisa membangkitkan kreativitas Anda.

Menurut Jill Murphy Long, penulis Permission to Play, daya imajinasi, keberanian, dan keceriaan anak-anak selama bermain ternyata dapat menular kepada orang dewasa, terutama orangtua mereka. Sebab lewat anak-anak, kita jadi mengingat kembali masa-masa “tanpa beban” saat masih balita.  
Kesederhanaan masa kecil akan membangkitkan kembali ide-ide kreatif yang bermanfat untuk meningkatkan performa kerja di kantor, atau bahkan bisa menginspirasi Anda untuk membangun bisnis sendiri.

Jenis permainan yang mampu merangsang kreativitasi ini adalah rangkaian permainan yang dilakukan di luar rumah, misalnya berenang, bersepeda, bermain tali, dan sebagainya. Bila ingin bermain di dalam rumah, disarankan memilih jenis permainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga.

http://female.kompas.com

Tuesday, April 1, 2014

Berbahagialah Orangtua yang Memiliki Anak Perempuan

Melalui sebuah penelitian, para ilmuan menyimpulkan bahwa keluarga yang memiliki anak perempuan cenderung lebih bahagia, sukses, dan mereka yang memiliki saudara perempuan berpotensi untuk umur panjang.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Ulster di Irlandia Utara menyatakan, anak perempuan dalam keluarga merupakan energi penyeimbang. Terutama saat terjadi sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan, seperti misalnya perceraian orangtua, kematian, anggota keluarga terjangkit penyakit keras, dan sebagainya. Alasannya, karena secara alamiah perempuan dianugerahi kepekaan perasaan dan kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik serta membicarakan beban yang mereka rasakan. Personifikasi yang demikian membuat mereka tidak memendam pikiran dan masalah dalam hati.
Penelitian ini melibatkan partisipan sebanyak 571 orang dengan kisaran usia antara 17 hingga 25 tahun. Mereka diberikan angket berisi serangkaian pertanyaan mengenai pandangan mereka akan masa depan, apa yang mereka lakukan saat terbentur masalah, dan sebagainya. Akhirnya terangkum informasi yang menyatakan bahwa partisipan yang memiliki saudara perempuan ditemukan lebih bahagia dan menikmati hidup dengan pikiran yang terbuka.

Selain itu, partisipan yang dibesarkan oleh orangtua yang bercerai, ternyata tetap mampu menjalani kehidupan secara normal berkat memiliki saudara perempuan yang menjadi tempat mereka berbagi dan saling mendukung. “Penemuan ini bisa dijadikan materi menguntungkan bagi psikolog anak, lembaga konsutan keluarga, atau pihak lainnya yang menawarkan bantuan bagi anak-anak yang menjadi “korban” perceraian orangtua,” ujar Professor Tony Casdidy, Ketua Penelitian.
Menurut Tony, memiliki anak dan saudara perempuan mendorong komunikasi antar anggota keluarga lainnya menjadi lebih baik. Seperti yang kita ketahui dalam ilmu psikologi, mengemukakan perasaan emosional berdampak postitif bagi kesehatan batiniah manusia.

http://female.kompas.com

Hati-hati, Ini Dampak Buruk Jika Anak Stres karena PR

Bukan hal yang aneh lagi ketika anak diberikan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya, dan tidak sedikit pula anak yang 'tersiksa' karenanya. Lantas, apakah benar jika dikatakan bahwa sebenarnya PR adalah sesuatu yang dapat 'menyiksa' anak?

Seperti dikutip CNN, Sabtu (29/3/2014), sebuah penelitian terbaru yang dimuat di Journal of Experimental Education mengungkapkan bahwa beberapa pelajar mengerjakan tugas atau PR-nya selama lebih dari 3 jam setiap malam, dan itulah yang menyebabkan mengapa PR membuat anak-anak merasa begitu 'tersiksa'.

"Bagaimanapun, 3 jam itu hanyalah waktu rata-rata saja," ujar Denise Pope, seorang dosen senior di Stanford Graduate School of Education yang melakukan penelitian ini.

"Karena di dalam penemuan ini kami menemukan anak-anak yang melakukannya selama lebih dari itu, di mana kebanyakan mencapai 5 jam di beberapa kasus," imbuhnya.

Penelitian ini dilakukan pada lebih dari 4.300 pelajar dari 10 sekolah menengah atas publik dan private di bagian upper-middle-class California, Amerika Serikat. Para peneliti mencari hubungan diantara PR yang selalu diberikan sekolah dengan kecerdasan para murid.

Ternyata, hasil yang ditunjukkan dalam penelitian ini ini begitu mencengangkan. Riset menunjukkan bahwa PR yang selalu diberikan oleh sekolah dapat memberikan stres tingkat tinggi, masalah kesehatan secara fisik, dan kurangnya keseimbangan di dalam kehidupan anak-anak. Bagi 56 persen dari seluruh murid yang berpartisipasi dalam penelitian ini, PR adalah faktor stres utama mereka.

"Kami menemukan hubungan yang jelas diantara stres yang dirasakan para murid dan dampaknya secara fisik, seperti migrain, ulcers (lubang di dalam lambung), gangguan tidur, hingga penurunan berat badan," tutur Pope.

Harus diakui bahwa keberadaan PR tidak semata-mata diberikan oleh guru, melainkan juga oleh orang tua. Ada orang tua yang sangat ingin anaknya diberikan PR oleh sekolah, namun ada juga yang tidak terlalu menginginkannya. Bahkan tidak sedikit pula orang tua yang jika gurunya tidak memberikan PR, maka mereka akan membeli workbooks sendiri dan menjadikannya PR untuk anak-anaknya.

"Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kesehatan anak-anak mereka. Orang tua itu harus menjadi 'pengacara' dan 'cheerleader' untuk anak-anak mereka, bukan grader atau corrector," ujar Pope.

Namun, biar bagaimana pun memang tidak bisa menghilangkan keberadaan PR secara sepenuhnya. Lantas, berapa lama batasannya yang terbaik untuk mengerjakan PR? Pope mengungkapkan bahwa sebaiknya untuk pelajar tingkat SMA yaitu tidak lebih dari 2 jam, sedangkan untuk pelajar SMP tidak lebih dari 90 menit.

"Kalau untuk sekolah dasar, tidak ada korelasinya antara PR dan penghargaan akademik yang akan didapat murid-murid SD," tandasnya.


http://health.detik.com

Agar Anak Tak Cari Info Sendiri, Ini Cara Simpel Berikan Pendidikan Seks

Bagi anak-anak apalagi remaja, hal-hal yang berbau seksual bisa saja menarik perhatian. Nah, di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk menjadi sarana informasi bagi anak-anak ketimbang mereka mencari informasi sendiri dari majalah, internet, atau teman. Lalu, bagaimana cara orang tua memberi pendidikan seks tersebut?

"Pendidikan seks yang diberikan tidak hanya mencakup fakta-fakta fisiologis tentang seks tapi juga menyangkut moral dan etika," kata dosen senior di bidang kesehatan dan pendidikan di Deakin University, dr Debbie Ollis.

Dikatakan dr Ollis, daripada selalu mengaitkan pendidikan seks dengan pencegahan penyakit, kehamilan, atau kekerasan seksual, dengan menambahkan unsur moral dan etika dapat menanamkan rasa tanggung jawab pada remaja di balik pemahaman mereka bahwa seksualitas adalah hal yang normal.

Caranya, percakapan tentang sistem reproduksi bisa dimulai saat anak duduk di bangku pra-sekolah yakni dengan memberi tahu beberapa bagian tubuh seperti penis, vulva, dan vagina. Selain itu, dr Ollis juga merekomendasikan supaya orang tua tak segan-segan mengawali pembicaraan tentang masalah seksual, terutama di waktu senggang dan sedang bersantai dengan keluarga.

"Saya tidak berbicara tentang mengajari anak praktik seksual, tapi berbicara tentang persahabatan dan pemahaman anak tentang tubuhnya sehingga mereka bisa bertanggung jawab dan melindungi organ seksualnya," papar dr Ollis.

Orang tua juga diharap tidak menghakimi dan amat terkejut ketika mereka menemukan fakta jika sang anak sudah mengenal lebih dulu bahasan tentang seksualitas. Sehingga, dr Ollis menyebutnya anggaplah Anda sedang membacakan cerita pada anak atau memberi arahan ketika menonton tv bersama.

Setelah itu, usahakan mendorong anak untuk bertanya agar tak ada lagi hal-hal yang masih membuatnya penasaran. Dengan begini, diharapkan remaja lebih mampu memahami apa yang mereka lihat di media dan lingkungan sekitar serta membuat keputusan tepat seputar isu-isu seksualitas.

"Mereka juga bisa membuat pilihan terkait kontrasepsi saat menikah, lebih bijak dalam menanggapi isu-isu seksual terutama isu-isu yang sering beredar di sosial media dan dialami anak muda yaitu hal-hal terkait pornografi," imbuh dr Ollis.

http://health.detik.com

Monday, February 17, 2014

Aturan Penting Buat Ayah

SIAPA bilang mengasuh dan mendidik anak hanya tugas serta kewajiban ibu? Ayah juga harus berperan serta! Tanpa itu, segalanya akan berjalan pincang. Anak akan tumbuh tanpa tokoh panutan yang lengkap, apalagi jika ia anak laki-laki.
Bagaimana ia bisa menjadi ayah yang baik nantinya jika tak pernah mendapat contoh serta pengalaman dari ayahnya? Nah, berikut ini hal-hal yang sebaiknya dilakukan para ayah.

1. Jangan berharap kelewat banyak Bila anak tahu bahwa Anda berharap banyak padanya, ia akan berusaha memberikan semampunya. Namun di sisi lain, jangan berharap kelewat banyak karena jika anak tak sanggup memenuhinya, ia akan merasa sedih dan takut tak disayang ayah.

2. Menerima kesalahan
Bila Anda yakin salah satu dari anak menimbulkan masalah di dalam rumah dan menyalahkannya, sadarilah, hal ini tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Memang puas rasanya memarahi dan menyalahkan, namun ini hanya akan memperburuk keadaan. Cintai dan terima anak bahwa mereka dapat berubah ke arah yang positif.

3. Kenali lebih dalam Cari tahu sedapat mungkin segala sesuatu mengenai anak Anda. Cari tahu mainan dan warna kesukaan mereka, siapa teman dekatnya, siapa tokoh pahlawan mereka, dan lainnya. Dengan memperlihatkan perhatian, Anda memunjukkan cinta Anda kepada mereka. Tanpa adanya pendekatan, Anda memperlihatkan sikap tidak peduli dan menganggap mereka tidak penting.

4. Katakan "TIDAK"
Kini banyak hal berbahaya bagi anak di "luar sana" yang sangat menggoda mereka. Anak harus belajar disiplin, pengendalian diri, dan bagaimana menunda kepuasan bila Anda mengatakan "TIDAK" pada mereka. Mengatakan "TIDAK" berarti membantu Anda memiliki anak yang sehat, bahagia, dan dapat bekerja sama.

5. Memukul karena tidak belajar
Penelitian menunjukkan, tamparan atau pukulan membuat anak-anak memiliki rasa percaya diri yang rendah. Memukul atau menampar anak hanya akan meningkatkan rasa takut anak terhadap ayahnya. Apakah memang ini yang Anda inginkan?

6. Perlakukan istri dengan baik
Bagaimana Anda memperlakukan istri merupakan petunjuk terpenting bagi anak tentang hubungan pria dan wanita. Usahakan tidak bertengkar di depan mereka. Bersikaplah dengan baik, daripada menunjukkan sikap bahwa Anda selalu benar.

7. Tindakan lebih keras daripada kata-kata
Banyak orangtua mengancam anaknya bila tak dapat diajak kerja sama. Bila Anda tak mempraktikkan konsekuensi ancaman itu, ia akan menyepelekan ancaman Anda. Yang mereka pahami adalah tindakan. Bila hak-hak tertentu yang mereka miliki dilarang karena tidak adanya kerja sama mereka, mereka akan memahami dengan cepat bahwa Anda bersungguh-sungguh.

8. Dengarkan dengan sungguh-sungguh
Jangan mendengarkan secara sepintas, tapi belajarlah mengerti apa yang mereka katakan. Refleksikan kembali apa yang dikatakannya. Bila Anda ingin ia mendengar apa yang Anda katakan, Anda pun harus mendengarkan apa yang dikatakannya.

9. Beri tanggung jawab sesuai usia Bila anak masih kecil, mungkin yang dapat dilakukannya hanya membereskan tempat tidur dan menjaga kamar tetap rapi. Bila mereka bertambah besar, tambahkan tanggung jawab. Katakan padanya, di dalam keluarga setiap anggota punya tanggung jawab masing-masing. Jangan beri hadiah untuk tanggung jawab yang memang harus mereka lakukan.

10. Katakan "LUAR BIASA"
Puji dan katakan betapa luar biasanya ia bagi Anda. Hal ini terutama sangat penting untuk disampaikan pada saat anak memiliki masalah. Tunjukkan kepada anak, apa yang membuat dia luar biasa karena hal ini akan lebih mengena dan berarti baginya.

http://female.kompas.com

Sunday, February 16, 2014

Perhatian Ayah Memengaruhi Perkembangan Emosi Anak

Riset terbaru mengungkapkan, ayah yang "hangat" membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dan perkembangan intelektualnya lebih baik.

"Keterlibatan ayah dalam keluarga akan meningkatkan IQ anak sampai 6-7," kata Berry Brazelton, seorang dokter anak. Di samping itu, anak akan lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri, dan mempunyai motivasi belajar.

Menurut Dr Louis B Silverstein dari Universitas New York, AS, ada hubungan langsung antara pertemuan ayah-anak dan tingginya tingkat agresivitas anak, serta tingkah laku yang cepat dewasa pada anak perempuan.

Cuma masalahnya, bagaimana membina hubungan mesra antara ayah dan anak? Jangan khawatir, banyak yang bisa Anda dilakukan, antara lain: 1. Bermain bersama anak
Dengan bermain bersama, membantu membuat (dalam arti mengajar) pekerjaan rumah, dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas kebersamaan dengan anak di rumah maupun di luar rumah.

Contoh kebersamaan ini antara lain bisa ditempuh dengan cara seperti mengajak anaknya yang naik kereta api. Bukan kereta api jarak jauh, melainkan kereta api jurusan Jakarta Kota–Bogor. Anak akan senang sekali.

2. Jangan sampai kelimpahan materi menggusur hubungan pribadi
Bekerja keras merupakan keharusan, tetapi setiap ayah perlu menghindari godaan materi. Ayah yang bijaksana tahu bahwa relasi ayah–anak bukanlah soal material, melainkan kepuasan hidup. Itu bisa berarti sebuah pilihan.

Misalnya saja, mana yang lebih penting, mempunyai rumah di atas tanah seluas 3.000 meter persegi dengan kolam renang yang indah atau membuat setiap penghuni rumah merasa kerasan tinggal di dalamnya?

Atau, mana yang lebih utama, mempunyai dapur yang indah atau kepastian setiap anggota keluarga bisa duduk bersama saat makan malam dan berbagi pengalaman?

3. Ayah yang efektif adalah ayah yang mengenal anaknya
Ayah yang efektif tahu apakah dia telah mengecewakan anaknya. Pun dia tahu hal-hal apa saja yang disukai anaknya. Ayah seperti ini juga tahu perbedaan anaknya dengan anak-anak tetangga. Mereka pun sangat peduli dengan karakter si anak.

Ken R Canfield, pengarang buku The Seven Secrets of Effective Fathers yang meneliti 4.000 orang ayah, sampai pada kesimpulan bahwa seorang ayah yang baik tahu keadaan anaknya bila sang anak tengah menghadapi masalah atau bagaimana harus meneguhkan hati anak.

4. Melibatkan anak dalam pekerjaan (kantor)
Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayahnya bekerja sebagai sebuah tempat asing. Dengan sesekali mengajak anak ke tempat kerja akan membuat mereka kenal dengan kegiatan ayahnya sehari-hari.

http://female.kompas.com