Monday, September 28, 2026

Tempe



Dalam budaya Jawa, tempe menyimbolkan hidup prasaja (sederhana), yaitu sikap batin yang sadar akan rasa cukup—tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Kedelai tidak bisa langsung dikonsumsi menjadi tempe secara instan; ia harus melalui proses perendaman, perebusan, pemberian ragi, hingga fermentasi yang sabar. Ketika digoreng, tempe mengalami transformasi akhir matang yang sempurna. Hal ini mencerminkan falsafah hidup bahwa manusia matang dan bernilai melalui sebuah proses, tempaan, serta waktu (wong urip kuwi kudu dadi, ora mung ana).

Dalam tradisi keluarga Jawa, pembuatan tempe dulu memerlukan gotong royong suami-istri (kaum laki-laki merebus dan mengupas, perempuan membungkus dan merawat proses raginya), yang menyimbolkan keharmonisan rumah tangga (Yen atine becik, tempene apik).

Memang kehidupan seperti sepiring tempe, tidak ada satu pun yang tahu. Tapi kita tahu siapa membuat penuh piring kehidupan kita. Salam kriuk kres!

Monday, September 7, 2026

Kedelai Ikat


Dulu waktu masih kecil ikut-kutan ngasak kedelai di ladang punya orang. Kalau nggak tahu ngasak, ngasak itu adalah kegiatan memungut atau mengambil sisa-sisa hasil panen (seperti padi, jagung, atau tomat) di ladang atau sawah setelah pemiliknya selesai memanen. Tapi ingatan saya memang sudah samar-samar tepatnya kapan dan sama siapa waktu itu. 

Nah, malam ini sambil nganter istri nambal ban bocor, di depan pom bensin ada yang jualan rebusan ubi, jagung dan kedelai (ini jarang ada!), belilah saya kedelainya yang tinggal 2 ikat, mengobati kangen makan kedelai rebus yang masih dengan gagangnya sembari mengenang masa dulu kala 😂

Dan ternyata Indonesia lebih banyak mengimpor kedelai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Sekitar 90% kebutuhan kedelai nasional bergantung pada produk impor, terutama dari negara seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Mau sedih sih tapi ya gitulah!