Kelahiran bayi dalam sebuah keluarga menjadi anugerah. Peran ayah tak
kalah penting dengan ibu dalam merawat dan mengasuhnya. Apalagi pada
enam minggu pertama sejak kelahiran, saat bayi sangat membutuhkan
bantuan dan perhatian ayah-ibunya.
Butuh kesabaran dan kerja
keras dengan ketulusan dan suka cita untuk menjalani masa tak terlupakan
ini, tentu saja dengan kondisi Anda dan suami memutuskan mengurus
sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi. Sudahkah suami Anda berperan besar
membantu Anda mengurus bayi? Berikut tanda-tandanya:
Bangun di malam hari dan tidur lelap di sela waktu
Waktu
tidur Anda dan suami berubah drastis saat mengalami masa menjadi
orangtua untuk pertama kalinya. Bayi yang terbangun di malam hari, entah
perlu berganti popok atau lapar dan haus, membuat Anda dan suami
berganti peran mengurusnya. Jika suami menjalankan peran ini,
beruntunglah Anda sebagai ibu dan istri. Dan maklumi saja jika, di siang
hari atau saat ada waktunya di hari libur, suami memanfatkan waktu
untuk tidur, bergantian dengan Anda tentunya. Baik Anda dan suami memang
harus membiasakan diri untuk memanfaatkan kesempatan untuk tidur.
Menjadi egois
Menempatkan
kebutuhan bayi sebagai prioritas utama adalah fokus Anda dan suami pada
masa ini. Suami yang memainkan perannya sebagai ayah, akan dengan mudah
mengatakan "tidak" kepada teman atau relasi yang mengajaknya
berkegiatan saat energi sudah terkuras. Dia akan lebih memilih bersama
Anda dan buah hati.
Siap sedia berurusan dengan popok
Bayi
bergantung pada orangtuanya untuk makan, minum, mandi, berganti
pakaian, dan berganti popok. Suami perlu terlibat memainkan perannya,
dan harus siap berurusan dengan semua kebutuhan buah hati. Karena urusan
ini juga menjadi tanggungjawab sebagai ayah, yang mendukung ibu paska
melahirkan.
Filter informasi
Sebagai orangtua
baru, Anda akan banyak menerima masukan dari teman dan keluarga. Maksud
mereka tentu saja baik, berbagi pengalaman. Namun setiap keluarga
memiliki karakter dan kebutuhan berbeda, termasuk seberapa besar peran
ayah. Coba kenali peran suami, apakah dia rajin mencari informasi, atau
bahkan mencari referensi bacaan untuk menjadi ayah? Jika iya, ajak juga
diskusi karena semua informasi yang didapatkan perlu disaring sesuai
kondisi keluarga Anda di rumah.
Tak lagi gengsi
Bayi
Anda akan membutuhkan waktu bersama ibunya, untuk menyusui atau
lainnya. Jika persediaan popok habis, suami yang belajar berperan
sebagai ayah takkan sungkan mengambil peran. Misalnya berbelanja
kebutuhan bayi di supermarket. Antre di kasir dengan tumpukan popok
bukan hal yang membuatnya malu, justru bangga berperan sebagai ayah dari
buah hatinya.
Menjalani peran tanpa beban
Suami
tak terlalu menganggap serius, apalagi menjadikan peran ayah sebagai
beban. Ini pertanda baik. Dia menyelipkan suka cita dan humor di dalam
perannya sebagai ayah. Artinya suami menyenangi perannya, dan sepenuh
hati menjalankan tanpa beban atau paksaan. Peran seperti inilah yang
dibutuhkan, karena bagaimanapun peran lengkap dari ayah dan ibu di masa
awal pertumbuhan anak akan mempengaruhi bagaimana buah hati bertumbuh
nantinya. Suami menikmati peran sebagai orangtua muda, mengurus semua
kebutuhan bayi bersama. Anda dan suami akan merindukan masa ini ketika
anak sudah dewasa nantinya, saat mereka mandiri dan tak lagi bergantung
kepada orangtuanya.
sumber: http://female.kompas.com
Tuesday, February 5, 2013
Ayah bukan Hanya "Figuran" di Keluarga
Para ayah punya peran penting dalam keluarga, terutama dalam pengasuhan
anak. Menjadi seorang ayah harus profesional, peduli, perhatian dan
hadir secara utuh dalam keluarga, bagi anak-anak juga pasangannya. Ayah
juga harus memainkan peran sebagai pelaku utama, bukan hanya figuran
dalam keluarga.
Inilah pesan yang disampaikan Ketua Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Dr Seto Mulyadi, di sela pembukaan Indonesia Maternity Baby & Kids Expo di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jumat (11/11/2011) lalu.
Kepada Kompas Female, ayah empat anak yang akrab disapa Kak Seto ini menjelaskan pentingnya peran ayah bagi anak-anak dan pasangan, dalam membangun sebuah keluarga.
"Penelitian di luar negeri menunjukkan para pelaku kriminal presentasi terbesarnya adalah orang yang tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Ayah harus menjadi pelaku utama bersama ibu, bukan figuran, dalam keluarga," kata Kak Seto yang mengaku keempat anaknya memiliki kedekatan emosi yang kuat dengannya lantaran hubungan ayah-anak telah dibangun sejak belia melalui komunikasi yang baik.
Kak Seto melanjutkan, dari data yang masuk ke Komnas PA, 80 persen pelaku kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak adalah para ibu, dengan adanya kontribusi dari ayah. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, terjadi bukan karena ibu yang jahat, tetapi karena ayah yang tidak peduli, tegasnya.
Mengapa ayah perlu peduli?
Kehadiran ayah secara nyata di rumah, berdampak bukan hanya kepada psikologis anak namun juga ibu. Sosok ayah dibutuhkan oleh anak laki-laki, juga anak perempuan. Ibu juga membutuhkan peran ayah dalam pengasuhan untuk menimbulkan rasa aman, kebersamaan, dan pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan. Bahkan, kehadiran peran ayah di rumah secara utuh juga memperkokoh nilai perkawinan, jelas Kak Seto.
"Dari segi psikologis, anak membutuhkan model perilaku maskulin dari ayahnya. Anak perempuan pun membutuhkan model ini untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi pasangan hidup nantinya," tambahnya.
Anak perempuan dapat lebih mampu memahami perilaku laki-laki karena kedekatan yang terbangun antara dia dengan sang ayah. Kedekatan hubungan ayah dengan anak-anak juga berperan penting bagi pasangan dan hubungan pernikahan. Ibu yang merasa dibantu dalam menjalankan peran pengasuhan menimbulkan perasaan lebih aman dan nyaman, yang berpengaruh pada keharmonisan keluarga.
Menguatkan pernikahan
Kepedulian ayah terhadap keluarga menjadi penting untuk menguatkan perkawinan, kata Kak Seto. Selain itu kedekatan hubungan ayah dengan seluruh anggota keluarganya, mengembangkan rasa percaya diri ayah.
"Tidak ada gunanya sukses di luar, namun saat kembali ke rumah, ayah tak dekat dengan anak. Mendapat pengakuan di rumah, apalagi dari anak-anak penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seorang ayah," lanjutnya.
Menjadi ayah harus profesional, tegas Kak Seto. Langkah awalnya adalah dengan membangun kedekatan bersama anak-anak. Jangan pernah menjadikan keterbatasan waktu atau kesibukan bekerja sebagai alasan untuk tak dekat dengan anak. Karenanya kemampuan manajemen waktu menjadi penting dimiliki setiap ayah.
Komunikasi sejak dini
Untuk menjadi ayah yang peduli dan profesional, langkah awalnya mulai membiasakan kekuatan verbal, membangun komunikasi dengan anak sejak dini. Dengan begitu, anak akan terbuka berbicara dan mengungkapkan pikiran dan ekspresinya kepada orangtuanya.
Jika ingin menyontoh Kak Seto, bacakan dongeng kepada anak sejak dini. Kemampuan berdialog antara orangtua-anak semakin berkembang dari kebiasaan membacakan dongeng ini. Atau Anda dan pasangan punya cara lainnya?
sumber: http://female.kompas.com
Inilah pesan yang disampaikan Ketua Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Dr Seto Mulyadi, di sela pembukaan Indonesia Maternity Baby & Kids Expo di Assembly Hall, Jakarta Convention Center, Jumat (11/11/2011) lalu.
Kepada Kompas Female, ayah empat anak yang akrab disapa Kak Seto ini menjelaskan pentingnya peran ayah bagi anak-anak dan pasangan, dalam membangun sebuah keluarga.
"Penelitian di luar negeri menunjukkan para pelaku kriminal presentasi terbesarnya adalah orang yang tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Ayah harus menjadi pelaku utama bersama ibu, bukan figuran, dalam keluarga," kata Kak Seto yang mengaku keempat anaknya memiliki kedekatan emosi yang kuat dengannya lantaran hubungan ayah-anak telah dibangun sejak belia melalui komunikasi yang baik.
Kak Seto melanjutkan, dari data yang masuk ke Komnas PA, 80 persen pelaku kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak adalah para ibu, dengan adanya kontribusi dari ayah. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, terjadi bukan karena ibu yang jahat, tetapi karena ayah yang tidak peduli, tegasnya.
Mengapa ayah perlu peduli?
Kehadiran ayah secara nyata di rumah, berdampak bukan hanya kepada psikologis anak namun juga ibu. Sosok ayah dibutuhkan oleh anak laki-laki, juga anak perempuan. Ibu juga membutuhkan peran ayah dalam pengasuhan untuk menimbulkan rasa aman, kebersamaan, dan pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan. Bahkan, kehadiran peran ayah di rumah secara utuh juga memperkokoh nilai perkawinan, jelas Kak Seto.
"Dari segi psikologis, anak membutuhkan model perilaku maskulin dari ayahnya. Anak perempuan pun membutuhkan model ini untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi pasangan hidup nantinya," tambahnya.
Anak perempuan dapat lebih mampu memahami perilaku laki-laki karena kedekatan yang terbangun antara dia dengan sang ayah. Kedekatan hubungan ayah dengan anak-anak juga berperan penting bagi pasangan dan hubungan pernikahan. Ibu yang merasa dibantu dalam menjalankan peran pengasuhan menimbulkan perasaan lebih aman dan nyaman, yang berpengaruh pada keharmonisan keluarga.
Menguatkan pernikahan
Kepedulian ayah terhadap keluarga menjadi penting untuk menguatkan perkawinan, kata Kak Seto. Selain itu kedekatan hubungan ayah dengan seluruh anggota keluarganya, mengembangkan rasa percaya diri ayah.
"Tidak ada gunanya sukses di luar, namun saat kembali ke rumah, ayah tak dekat dengan anak. Mendapat pengakuan di rumah, apalagi dari anak-anak penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seorang ayah," lanjutnya.
Menjadi ayah harus profesional, tegas Kak Seto. Langkah awalnya adalah dengan membangun kedekatan bersama anak-anak. Jangan pernah menjadikan keterbatasan waktu atau kesibukan bekerja sebagai alasan untuk tak dekat dengan anak. Karenanya kemampuan manajemen waktu menjadi penting dimiliki setiap ayah.
Komunikasi sejak dini
Untuk menjadi ayah yang peduli dan profesional, langkah awalnya mulai membiasakan kekuatan verbal, membangun komunikasi dengan anak sejak dini. Dengan begitu, anak akan terbuka berbicara dan mengungkapkan pikiran dan ekspresinya kepada orangtuanya.
Jika ingin menyontoh Kak Seto, bacakan dongeng kepada anak sejak dini. Kemampuan berdialog antara orangtua-anak semakin berkembang dari kebiasaan membacakan dongeng ini. Atau Anda dan pasangan punya cara lainnya?
sumber: http://female.kompas.com
Para Ayah Berperan Bentuk Karakter Gigih dan Tekun Anak
Peran ayah
sangat penting dalam mengembangkan kegigihan dan ketekunan dalam diri
anak. Karakter tersebut menjadi landasan bagi anak dalam menghadapi
tekanan kehidupan dan berhasil dalam hidupnya.
Studi baru oleh para peneliti dari School of Family Life di Brigham Young University menunjukkan, ayah mempu nyai posisi yang unik dalam me nolong anak mereka me ngembangkan karakter gigih dan tekun. Riset para peneli ti BYU itu diterbitkan dalam jurnal Early Adolescence, 15 Juni 2012.
Profesor Laura Padilla-Walker dan Randal Day mencapai kesimpulan itu setelah mengikuti perkembangan 325 keluarga sela ma beberapa tahun. Seiring berjalann ya waktu, sifat gigih diperoleh anak dari para ayah. Sikap ini berdampak postif yakni lebih tinggi nya keterlibatan anak di sekolah dan tingkat kenakalan lebih rendah.
"Dalam penelitian , kami bertanya apakah anak mampu bertekun pada sebuah tugas, menyelesaikan sebuah proyek, serta membuat tujuan dan menyelesaikannya. Kemampuan anak untuk bertekun dan gigih menjadi landasan penting bagi anak untuk berkembang, maju, dan mampu menghadapi stres serta tekanan kehidupan," ujar Day seperti dikutip ScienceDaily. Dalam studi itu juga disimpulkan sifat gigih dan tekun dapat diajarkan. Kuncinya ialah peran ayah dalam mempraktikkan apa yang disebut pengasuhan tegas dan berwibawa , tetapi model pengasuhan itu jangan disamakan dengan pengasuhan yang otoriter. Sama sekali berbeda.
Beberapa hal dalam pengasuhan tegas berwibawa itu antara lain anak mendapatkan kehagatan dan kasih sayang dari ayah, penekanan terhadap akuntabilitas dan alasan dari setiap aturan yang dibuat orangtua, serta anak diberikan otonomi yang wajar.
Sekitar 52 persen ayah dalam studi itu yang melaksanakan model pengasuhan itu, anak-anaknya dapat mengembangkan kegigihan dan ketekunan.Studi ini meneli ti anak-anak umur 11-14 tahun. Kedua peneliti itu menyarankan, Para ayah harus terus berusaha lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dan melakukan interaksi yang berkualitas , walaupun secara kuantitas terbatas, ujar Padilla-Walker.
Sumber: ScienceDaily
Studi baru oleh para peneliti dari School of Family Life di Brigham Young University menunjukkan, ayah mempu nyai posisi yang unik dalam me nolong anak mereka me ngembangkan karakter gigih dan tekun. Riset para peneli ti BYU itu diterbitkan dalam jurnal Early Adolescence, 15 Juni 2012.
Profesor Laura Padilla-Walker dan Randal Day mencapai kesimpulan itu setelah mengikuti perkembangan 325 keluarga sela ma beberapa tahun. Seiring berjalann ya waktu, sifat gigih diperoleh anak dari para ayah. Sikap ini berdampak postif yakni lebih tinggi nya keterlibatan anak di sekolah dan tingkat kenakalan lebih rendah.
"Dalam penelitian , kami bertanya apakah anak mampu bertekun pada sebuah tugas, menyelesaikan sebuah proyek, serta membuat tujuan dan menyelesaikannya. Kemampuan anak untuk bertekun dan gigih menjadi landasan penting bagi anak untuk berkembang, maju, dan mampu menghadapi stres serta tekanan kehidupan," ujar Day seperti dikutip ScienceDaily. Dalam studi itu juga disimpulkan sifat gigih dan tekun dapat diajarkan. Kuncinya ialah peran ayah dalam mempraktikkan apa yang disebut pengasuhan tegas dan berwibawa , tetapi model pengasuhan itu jangan disamakan dengan pengasuhan yang otoriter. Sama sekali berbeda.
Beberapa hal dalam pengasuhan tegas berwibawa itu antara lain anak mendapatkan kehagatan dan kasih sayang dari ayah, penekanan terhadap akuntabilitas dan alasan dari setiap aturan yang dibuat orangtua, serta anak diberikan otonomi yang wajar.
Sekitar 52 persen ayah dalam studi itu yang melaksanakan model pengasuhan itu, anak-anaknya dapat mengembangkan kegigihan dan ketekunan.Studi ini meneli ti anak-anak umur 11-14 tahun. Kedua peneliti itu menyarankan, Para ayah harus terus berusaha lebih terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dan melakukan interaksi yang berkualitas , walaupun secara kuantitas terbatas, ujar Padilla-Walker.
Sumber: ScienceDaily
Editor :
Fransiskus Sarong
Peran Ayah untuk Karier Perempuan
Apa yang menentukan kesuksesan seorang perempuan dalam menapaki
kariernya? Ternyata bukan sekadar latar belakang pendidikan, prestasi
kerja, atau sifat kepemimpinannya. Studi baru mendapati, aspek
terpenting yang akan membentuk ambisi perempuan dan menentukan apakah ia
akan mampu menaklukkan dunia kerja adalah sosok ayah.
Studi dari University of British Columbia ini mengungkapkan, ayah dengan ide-ide egaliter mengenai jender cenderung akan membesarkan anak perempuan dengan ambisi dalam karier yang lebih tinggi daripada ayah dengan pandangan yang kaku mengenai jender. Ide-ide kesetaraan ini akan terlihat saat ayah mendidik anak perempuannya sejak kecil, meskipun dalam hal yang sederhana. Saling berbagi pekerjaan rumah tangga, misalnya, sudah cukup menunjukkan bagaimana seorang ayah menanggapi peran-peran jender. Tanpa disadari, hal ini akan membentuk nilai-nilai dan pandangan anak mengenai peran jender.
Penelitian ini tidak membuktikan bahwa perilaku ayah menyebabkan ambisi karier anak perempuannya atau sebaliknya, melainkan menunjukkan bahwa anak-anak perempuan akan memandang pada ayah untuk mengukur peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Dengan kata lain, pandangan anak perempuan mengenai apa yang terjadi di lingkungannya akan terbentuk dari tindakan-tindakan orangtua, khususnya ayah.
Contoh lain mengenai pengaruh ayah dalam peran jender juga bisa terlihat dari jenis mainan yang disukai anak.
"Ayah yang lebih seimbang akan memiliki anak-anak perempuan yang mungkin saja bermain dengan mainan Transformers ataupun boneka Barbie," ungkap peneliti Toni Schmader dari University of British Colombia.
Tim peneliti juga mengatakan, butuh penelitian lebih lanjut untuk mengetahui relasi antara ayah dan anak perempuannya. Yang pasti, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran dalam kehidupan anak perempuan. Cara orangtua bertindak di rumah juga memainkan peran yang besar dalam mendidik anak perempuan mengenai perannya di dunia, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karenanya.
sumber: Kompas.com
Studi dari University of British Columbia ini mengungkapkan, ayah dengan ide-ide egaliter mengenai jender cenderung akan membesarkan anak perempuan dengan ambisi dalam karier yang lebih tinggi daripada ayah dengan pandangan yang kaku mengenai jender. Ide-ide kesetaraan ini akan terlihat saat ayah mendidik anak perempuannya sejak kecil, meskipun dalam hal yang sederhana. Saling berbagi pekerjaan rumah tangga, misalnya, sudah cukup menunjukkan bagaimana seorang ayah menanggapi peran-peran jender. Tanpa disadari, hal ini akan membentuk nilai-nilai dan pandangan anak mengenai peran jender.
Penelitian ini tidak membuktikan bahwa perilaku ayah menyebabkan ambisi karier anak perempuannya atau sebaliknya, melainkan menunjukkan bahwa anak-anak perempuan akan memandang pada ayah untuk mengukur peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Dengan kata lain, pandangan anak perempuan mengenai apa yang terjadi di lingkungannya akan terbentuk dari tindakan-tindakan orangtua, khususnya ayah.
Contoh lain mengenai pengaruh ayah dalam peran jender juga bisa terlihat dari jenis mainan yang disukai anak.
"Ayah yang lebih seimbang akan memiliki anak-anak perempuan yang mungkin saja bermain dengan mainan Transformers ataupun boneka Barbie," ungkap peneliti Toni Schmader dari University of British Colombia.
Tim peneliti juga mengatakan, butuh penelitian lebih lanjut untuk mengetahui relasi antara ayah dan anak perempuannya. Yang pasti, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran dalam kehidupan anak perempuan. Cara orangtua bertindak di rumah juga memainkan peran yang besar dalam mendidik anak perempuan mengenai perannya di dunia, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karenanya.
sumber: Kompas.com
6 Bahasa Cinta Ayah dan Anak Perempuan
Menjadi orang tua adalah peran yang penuh kebahagiaan, tapi penuh
tanggung jawab. Peran yang tidak mudah ini juga sering kali berhadapan
dengan kondisi yang dilematis. Apakah kita ingin menjadi orangtua yang
otoriter atau permisif? Karena sebenarnya untuk membentuk karakter anak
diperlukan keseimbangan ketegasan, disiplin, rendah hati, dan
berpikiran positif. Semua ini bisa diwujudkan dengan komunikasi yang
terbuka antara anak dengan orang tua.
Kadang-kadang, komunikasi antara ayah dengan anak perempuan memiliki friksi tersendiri. Padahal ayah adalah karakter pria pertama yang dikenali anak perempuan. Bagaimana nantinya anak perempuan mendefinisikan pria, pembelajaran pertamanya didapat dari ayah. Pola interaksi yang terjadi antara ayah dengan anak perempuan ini akan membentuk anak perempuan kita menjadi perempuan yang percaya diri, berkarakter, dan berani membuat pilihan terutama ketika tiba waktunya memilih pasangan hidup.
Meski tak ada rumus baku untuk menciptakan hubungan ayah dengan anak perempuan yang harmonis, karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, simak bahasa cinta yang bisa membuat anak perempuan kita memiliki karakter yang lebih matang.
1. Perlakukan anak perempuan kita sesuai dengan usianya, karena tak selamanya dia menjadi putri kecil kesayangan. Jika kita terus menganggapnya seperti anak kecil atau putri kecil, maka dia tidak akan pernah benar-benar menjadi pribadi yang matang. Biarkan anak perempuan kita tumbuh sesuai umurnya dan menghadapi segala tanggung jawab yang memang sudah harus diterima. Dengan demikian dia akan merasa dihargai dan menghargai dirinya sendiri.
2. Berbicaralah dengan terbuka, jangan hanya mendengarkan tapi cobalah mengerti apa yang diinginkannya. Jangan bicara dengan nada memerintah, karena bukan itu satu-satunya cara membuat kita berwibawa. Lagipula gaya bicara yang keras atau dengan nada memerintah tidak akan membuat anak menyimpan pesan yang kita sampaikan dalam waktu lama, serta membuatnya tidak percaya diri. Sampaikan pendapat dengan tenang dan ajak mereka masuk dalam penjelasan rasional yang kita berikan. Sehingga mereka tidak merasa dihambat atau dilarang.
3. Biarkan anak perempuan kita menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang memutuskan sesuatu berdasarkan kesadaran diri bukan karena impulsivitas semata. Ayah boleh saja memberikan opini, tapi bukan berarti memaksa anak agar mengikuti keinginannya. Karena tanpa disadari, ketika anak berani memilih maka dia akan berani bertanggung jawab atas pilihannya.
4. Ayah perlu menunjukkan bahwa ia selalu menghormati perempuan. Caranya, dengan memperlakukan isteri, ibu, atau saudara perempuannya dengan hormat. Dengan begitu anak perempuan kita akan memilih pendamping yang memang menghargai perempuan, tidak sekadar cinta buta.
5. Jangan segan untuk mengekspresikan cinta pada anak perempuan. Merasakan cinta yang tulus dari ayah, akan membuat anak perempuan merasa aman dan percaya pada kita sebagai orangtua serta teman. Ini yang kemudian secara alami membentuk interaksi yang hangat antara ayah dan anak perempuan.
6. Ajari anak perempuan kita akan prinsip diri. Kita tidak akan bisa 24 jam penuh mendampingi anak perempuan kita, maka bekali mereka dengan prinsip diri yang kuat. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah diperdaya oleh iming-iming teman-temannya. Anak perempuan kita pun semakin menjadi perempuan yang matang dengan prinsip hidup yang kuat.
Di saat anak kita memiliki konsep dan interaksi hubungan yang baik dengan ayahnya, ini akan ditularkan pada anak-anaknya kelak. Inilah warisan yang akan selalu berharga sepanjang generasi.
sumber: Kompas.com
Kadang-kadang, komunikasi antara ayah dengan anak perempuan memiliki friksi tersendiri. Padahal ayah adalah karakter pria pertama yang dikenali anak perempuan. Bagaimana nantinya anak perempuan mendefinisikan pria, pembelajaran pertamanya didapat dari ayah. Pola interaksi yang terjadi antara ayah dengan anak perempuan ini akan membentuk anak perempuan kita menjadi perempuan yang percaya diri, berkarakter, dan berani membuat pilihan terutama ketika tiba waktunya memilih pasangan hidup.
Meski tak ada rumus baku untuk menciptakan hubungan ayah dengan anak perempuan yang harmonis, karena setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, simak bahasa cinta yang bisa membuat anak perempuan kita memiliki karakter yang lebih matang.
1. Perlakukan anak perempuan kita sesuai dengan usianya, karena tak selamanya dia menjadi putri kecil kesayangan. Jika kita terus menganggapnya seperti anak kecil atau putri kecil, maka dia tidak akan pernah benar-benar menjadi pribadi yang matang. Biarkan anak perempuan kita tumbuh sesuai umurnya dan menghadapi segala tanggung jawab yang memang sudah harus diterima. Dengan demikian dia akan merasa dihargai dan menghargai dirinya sendiri.
2. Berbicaralah dengan terbuka, jangan hanya mendengarkan tapi cobalah mengerti apa yang diinginkannya. Jangan bicara dengan nada memerintah, karena bukan itu satu-satunya cara membuat kita berwibawa. Lagipula gaya bicara yang keras atau dengan nada memerintah tidak akan membuat anak menyimpan pesan yang kita sampaikan dalam waktu lama, serta membuatnya tidak percaya diri. Sampaikan pendapat dengan tenang dan ajak mereka masuk dalam penjelasan rasional yang kita berikan. Sehingga mereka tidak merasa dihambat atau dilarang.
3. Biarkan anak perempuan kita menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang memutuskan sesuatu berdasarkan kesadaran diri bukan karena impulsivitas semata. Ayah boleh saja memberikan opini, tapi bukan berarti memaksa anak agar mengikuti keinginannya. Karena tanpa disadari, ketika anak berani memilih maka dia akan berani bertanggung jawab atas pilihannya.
4. Ayah perlu menunjukkan bahwa ia selalu menghormati perempuan. Caranya, dengan memperlakukan isteri, ibu, atau saudara perempuannya dengan hormat. Dengan begitu anak perempuan kita akan memilih pendamping yang memang menghargai perempuan, tidak sekadar cinta buta.
5. Jangan segan untuk mengekspresikan cinta pada anak perempuan. Merasakan cinta yang tulus dari ayah, akan membuat anak perempuan merasa aman dan percaya pada kita sebagai orangtua serta teman. Ini yang kemudian secara alami membentuk interaksi yang hangat antara ayah dan anak perempuan.
6. Ajari anak perempuan kita akan prinsip diri. Kita tidak akan bisa 24 jam penuh mendampingi anak perempuan kita, maka bekali mereka dengan prinsip diri yang kuat. Dengan begitu, mereka tidak akan mudah diperdaya oleh iming-iming teman-temannya. Anak perempuan kita pun semakin menjadi perempuan yang matang dengan prinsip hidup yang kuat.
Di saat anak kita memiliki konsep dan interaksi hubungan yang baik dengan ayahnya, ini akan ditularkan pada anak-anaknya kelak. Inilah warisan yang akan selalu berharga sepanjang generasi.
sumber: Kompas.com
Peran Ayah Membentuk Karakter Seks Putrinya
Kasus-kasus seks pranikah makin banyak. Selain mengindikasikan
adanya masalah dalam sistem keluarga, khusus untuk remaja, seks pranikah
menunjukkan miskinnya informasi yang didapat anak lewat orangtuanya.
Tentu saja, orangtua tidak bisa berharap banyak jika informasi mengenai
seks diberikan saat anak menjelang remaja; apalagi kalau mereka mulai
mengenal lawan jenis atau berpacaran.
Penjelasan itu sebaiknya diberikan sejak dini, ketika anak mulai bertanya-tanya soal tubuhnya. Orangtua membangun atmosfer yang menyenangkan bagi anak untuk berdiskusi, kemudian menggunakan setiap kesempatan secara sadar untuk memberi penjelasan, sedikit demi sedikit, sesuai pengertian anak-anak kita.
Membentuk identitas dan karakter seks anak
Penelitian Ilmu Psikologi menemukan bahwa peran ayah sangat besar dalam menumbuhkan rasa keberhargaan dalam diri anak, baik pria maupun wanita.
Salah satu sisi pengaman anak perempuan kita agar tidak mudah terjebak dalam seks pranikah adalah kedekatan dengan sang Ayah. Dia membutuhkan figur seorang pria yang baik, pengasih dan penyayang. Dia pertama-tama mengenal “dunia” pria dari sang ayah. Dia mendapatkan identitas seksual sebagai perempuan dari sang Ayah yang memperlakukan dia sebagai anak putri dengan baik.
Dia bangga menjadi seorang wanita karena ayahnya menekankan itu di rumah. Karena itu dia berusaha menjaga kesuciian dirinya sebagai perempuan, dan tidak ingin mengecewakan ayahnya hanya karena kesenangan pergaulan dengan temannya.
Kelimpahan kasih, penghargaan dan pujian dari sang Ayah, akan membuat putri kita tak mudah jatuh dalam rayuan gombal temannya. Yang mendekati putri kita hanya untuk kepentingan pribadinya. Putri kira tahu menilai mana pria yang bertanggungjawab dan mana yang tidak. Anak kita tidak kan sembarangan menyerahkan dirinya pada laki-laki yang integritasnya tidak jelas. Dia punya patron, pria yang baik seperti Ayahnya.
Anak-anak perempuan yang menerima cinta yang cukup dari ayah mereka tidak mudah mengubar-umbar cinta ke sembarang pria di sekitarnya. Dia mendapat cukup cinta dan perhatian dari pria terbaik dalam hidupnya saat ini, yaitu ayahnya. Dengan kasih sayang dan memberi kebutuhan anak, maka karakter seksual anak terbentuk dengan baik. Inilah modal dia mampu berkata TIDAK, saat digoda dalam pertemanannya dan terhindar dari hubungan seks pranikah.
Sebaliknya, jika dia tidak punya model dan kasih pria yang baik di rumah, dia akan mencari cinta dari teman-teman pria di luar rumah, dalam pergaulannya. Tapi akan Sangat bahaya jika dia mendapatkan di tempat yang salah, pertemanan yang tidak bertanggungjawab.
Para Ayah, jangan sampai mengabaikan kebutuhan putra putri kita. Anak-anak yang diabaikan ayahnya mengalami hambatan emosi tiga kali lipat dibandingkan mereka yang kekurangan kasih ibu. Tidak heran Kitab Suci penuh dengan petunjuk tentang peran para ayah. Tuhan memberikan peranan yang besar pada seorang ayah dalam keluarganya.
Menjelang remaja sebagai Ayah kita perlu menanamkan pentingnya menghormati ibu dan menghargai perempuan. Melatih anak-anak untuk belajar saling menghargai dalam pernikahan lewat relasi diantara kita dan pasangan.
Penutup
Keluarga adalah tempat anak belajar menjadi suami, istri dan nilai sebuah keluarga. Salah satu yang harus dipelajari seorang anak laki-laki adalah menghargai dan menghormati perempuan. Demikian juga putri kita menghargai pria. Keluarga juga tempat anak kita diterima apa adanya, termasuk saat dia gagal memenuhi harapan kita sebagai orang tua.
Untuk pencegahan, maka setiap orangtua harus memastikan bahwa remajanya memiliki perasaan “diri saya berharga”. Rasa diri berharga ini didapat dari perasaan aman dan dikasihi yang berasal dari ikatan yang sehat dengan orangtua, yang dibangun sejak bayi.
Selain itu, tentu saja perlu pengalaman spiritual dalam hidup anak-anak. Mereka sadar betul bahwa dirinya begitu berharga sebagai ciptaan, dan dikasihi Allah. Demikian besar Allah mengasihi dirinya, dan kasih itu dia lihat dari Ayah dan Ibunya.
sumber: Kompas.com
Penjelasan itu sebaiknya diberikan sejak dini, ketika anak mulai bertanya-tanya soal tubuhnya. Orangtua membangun atmosfer yang menyenangkan bagi anak untuk berdiskusi, kemudian menggunakan setiap kesempatan secara sadar untuk memberi penjelasan, sedikit demi sedikit, sesuai pengertian anak-anak kita.
Membentuk identitas dan karakter seks anak
Penelitian Ilmu Psikologi menemukan bahwa peran ayah sangat besar dalam menumbuhkan rasa keberhargaan dalam diri anak, baik pria maupun wanita.
Salah satu sisi pengaman anak perempuan kita agar tidak mudah terjebak dalam seks pranikah adalah kedekatan dengan sang Ayah. Dia membutuhkan figur seorang pria yang baik, pengasih dan penyayang. Dia pertama-tama mengenal “dunia” pria dari sang ayah. Dia mendapatkan identitas seksual sebagai perempuan dari sang Ayah yang memperlakukan dia sebagai anak putri dengan baik.
Dia bangga menjadi seorang wanita karena ayahnya menekankan itu di rumah. Karena itu dia berusaha menjaga kesuciian dirinya sebagai perempuan, dan tidak ingin mengecewakan ayahnya hanya karena kesenangan pergaulan dengan temannya.
Kelimpahan kasih, penghargaan dan pujian dari sang Ayah, akan membuat putri kita tak mudah jatuh dalam rayuan gombal temannya. Yang mendekati putri kita hanya untuk kepentingan pribadinya. Putri kira tahu menilai mana pria yang bertanggungjawab dan mana yang tidak. Anak kita tidak kan sembarangan menyerahkan dirinya pada laki-laki yang integritasnya tidak jelas. Dia punya patron, pria yang baik seperti Ayahnya.
Anak-anak perempuan yang menerima cinta yang cukup dari ayah mereka tidak mudah mengubar-umbar cinta ke sembarang pria di sekitarnya. Dia mendapat cukup cinta dan perhatian dari pria terbaik dalam hidupnya saat ini, yaitu ayahnya. Dengan kasih sayang dan memberi kebutuhan anak, maka karakter seksual anak terbentuk dengan baik. Inilah modal dia mampu berkata TIDAK, saat digoda dalam pertemanannya dan terhindar dari hubungan seks pranikah.
Sebaliknya, jika dia tidak punya model dan kasih pria yang baik di rumah, dia akan mencari cinta dari teman-teman pria di luar rumah, dalam pergaulannya. Tapi akan Sangat bahaya jika dia mendapatkan di tempat yang salah, pertemanan yang tidak bertanggungjawab.
Para Ayah, jangan sampai mengabaikan kebutuhan putra putri kita. Anak-anak yang diabaikan ayahnya mengalami hambatan emosi tiga kali lipat dibandingkan mereka yang kekurangan kasih ibu. Tidak heran Kitab Suci penuh dengan petunjuk tentang peran para ayah. Tuhan memberikan peranan yang besar pada seorang ayah dalam keluarganya.
Menjelang remaja sebagai Ayah kita perlu menanamkan pentingnya menghormati ibu dan menghargai perempuan. Melatih anak-anak untuk belajar saling menghargai dalam pernikahan lewat relasi diantara kita dan pasangan.
Penutup
Keluarga adalah tempat anak belajar menjadi suami, istri dan nilai sebuah keluarga. Salah satu yang harus dipelajari seorang anak laki-laki adalah menghargai dan menghormati perempuan. Demikian juga putri kita menghargai pria. Keluarga juga tempat anak kita diterima apa adanya, termasuk saat dia gagal memenuhi harapan kita sebagai orang tua.
Untuk pencegahan, maka setiap orangtua harus memastikan bahwa remajanya memiliki perasaan “diri saya berharga”. Rasa diri berharga ini didapat dari perasaan aman dan dikasihi yang berasal dari ikatan yang sehat dengan orangtua, yang dibangun sejak bayi.
Selain itu, tentu saja perlu pengalaman spiritual dalam hidup anak-anak. Mereka sadar betul bahwa dirinya begitu berharga sebagai ciptaan, dan dikasihi Allah. Demikian besar Allah mengasihi dirinya, dan kasih itu dia lihat dari Ayah dan Ibunya.
sumber: Kompas.com
Ayah Juga Bertanggung Jawab Mendidik Anak
Saat ini banyak terjadi kekosongan peran ayah dalam pendidikan anak.
Padahal, tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab orangtua, yaitu ayah
dan ibu.
Hal itu dikemukakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dalam sambutan pada penobatan Duta Dancow Parenting Center 2012, di Jakarta, Kamis (31/1/2013) lalu.
Menurut Linda, di masyarakat masih berkembang pandangan bahwa pengasuh anak adalah ibu. ”Salah satu penyebab adalah budaya patriarkat,” katanya.
Padahal, usia 0-8 tahun merupakan usia penting bagi anak untuk mendapatkan teladan. ”Anak perlu figur ayah dan ibu sebagai tokoh idola,” ujar Linda.
Hal senada dikatakan dokter spesialis gizi medik, Saptawati Bardosono. Menurut dia, peran ayah tidak kalah penting dari ibu. Ibu berperan mengandung dan melahirkan. Peran ayah memberikan perlindungan bagi ibu. ”Rasa nyaman dan aman dari ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin,” katanya.
Linda menekankan pentingnya menjaga status gizi dan kesehatan ibu pada kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Hal itu berpengaruh terhadap perkembangan mental, fisik, dan kecerdasan anak. Periode 1.000 hari pertama perkembangan anak merupakan periode sensitif. ”Jika terjadi kurang gizi, akibatnya tak dapat dikoreksi,” ujarnya.
Status gizi dapat ditingkatkan dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Selanjutnya, pemberian ASI bersama makanan tambahan sampai anak berusia dua tahun. Sayuran, buah-buahan, ikan, dan produk kedelai mendukung terjaganya kecukupan gizi anak.
Linda mengingatkan pentingnya sarapan sehat. Pekan Sarapan Nasional telah dideklarasikan Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia, dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, awal Januari lalu.
sumber; Kompas.com
Hal itu dikemukakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dalam sambutan pada penobatan Duta Dancow Parenting Center 2012, di Jakarta, Kamis (31/1/2013) lalu.
Menurut Linda, di masyarakat masih berkembang pandangan bahwa pengasuh anak adalah ibu. ”Salah satu penyebab adalah budaya patriarkat,” katanya.
Padahal, usia 0-8 tahun merupakan usia penting bagi anak untuk mendapatkan teladan. ”Anak perlu figur ayah dan ibu sebagai tokoh idola,” ujar Linda.
Hal senada dikatakan dokter spesialis gizi medik, Saptawati Bardosono. Menurut dia, peran ayah tidak kalah penting dari ibu. Ibu berperan mengandung dan melahirkan. Peran ayah memberikan perlindungan bagi ibu. ”Rasa nyaman dan aman dari ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin,” katanya.
Linda menekankan pentingnya menjaga status gizi dan kesehatan ibu pada kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Hal itu berpengaruh terhadap perkembangan mental, fisik, dan kecerdasan anak. Periode 1.000 hari pertama perkembangan anak merupakan periode sensitif. ”Jika terjadi kurang gizi, akibatnya tak dapat dikoreksi,” ujarnya.
Status gizi dapat ditingkatkan dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Selanjutnya, pemberian ASI bersama makanan tambahan sampai anak berusia dua tahun. Sayuran, buah-buahan, ikan, dan produk kedelai mendukung terjaganya kecukupan gizi anak.
Linda mengingatkan pentingnya sarapan sehat. Pekan Sarapan Nasional telah dideklarasikan Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia, dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, awal Januari lalu.
sumber; Kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)