Kesuksesan dan cara berpikir anak memang tergantung
pada pola asuh serta pendidikan yang diberi oleh orangtua. Namun,
sebuah penelitian mengatakan perilaku positif ayah juga berpengaruh pada
tingkat kecerdasan anak perempuan. Berikut Uraiannya.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Psychological Science
melaporkan, para ayah yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah
kemungkinan besar akan menghasilkan anak perempuan yang mau bekerja
keras dan berambisi dalam pendidikan.
Umumnya, pekerjaan
rumahtangga selalu dikaitkan dengan tugas wanita. Namun, seiring waktu,
anggapan itu sudah sedikit memudar di masyarakat, tetapi demikian,
jumlah wanita yang menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan
domestik seorang diri masih tinggi. Padahal, ayah yang ringan tangan
memiliki dampak positif pada tumbuh kembang anak perempuan.
Kondisi di mana ayah dan ibu saling bekerjasama di rumah membangun
pikiran bahwa anak perempuan memiliki ruang dan waktu untuk mengejar
cita-cita mereka, sebab kelak ada suami yang turut meringangkan tugas
domestik.
"Meskipun kami telah melakukan upaya terbaik guna
menciptakan kesetaraan di tempat kerja. Wanita masih sangat kurang
terwakili dalam posisi kepemimpinan dan manajerial," kata Alyssa Croft,
kandidat doktor di University of British Columbia kepada Asosiasi Ilmu
Psikologi seperti dikutip Good Housekeeping.
Menurut
Croft, studi ini sangat penting, sebab hasil studi menyarankan
pentingnya membangun kesetaraan jender mulai dari lingkungan rumah.
Sebab, hal yang demikian dapat menjadi salah satu cara untuk
menginspirasi para perempuan muda dalam menata rencana dan pandangan
terhadap karir mereka di masa mendatang.
http://female.kompas.com/
Thursday, October 23, 2014
Thursday, September 25, 2014
Untuk Terlihat Menarik Butuh Lebih dari Sekadar Rasa Percaya Diri
Pernahkah Anda berada dalam situasi dan lingkungan baru yang membuat
Anda canggung, sampai akhirnya memilih untuk tidak terlalu banyak
terlibat dengan segala aktivitas yang terjadi di sekeliling Anda? Jika
ya, simak uraian berikut mengenai kiat menjadi seseorang yang menarik
dan percaya diri.
1. Berbicara apa adanya
Saran yang sangat mudah ini darang dari Scott Adamns, pencipta tokoh kartun Dilbert: "Jangan berbicara omong kosong karena akan menurunkan pamor Anda dalam ruangan tersebut. Sebaliknya, katakanlah sesuatu yang positif sesering mungkin. Hal tersebut dapat memotivasi suasana hati setiap orang di sekeliling Anda. Lalu, jika Anda berbicara menggunakan nada positif, maka hal tersebut pun akan menular pada orang lain,"
2. Belajar dari idola
Seorang penulis dan motivator, Scott Ginsberg, menyarankan untuk menuliskan 10 nama idola Anda. Kemudian, jabarkan tiga sifat mereka yang menurut Anda menarik. Sebab, melakukan hal yang demikian dapat secara tidak langsung mengarahkan pikiran dan perilaku lebih baik, setidaknya serupa dengan idola Anda.
3. Jawab pertanyaan soal diri sendiriChip Heath, profesor dari Stanford Graduate School of Business menyarankan untuk fokus pada tiga alur, ketika menceritakan kehidupan Anda. Pertama, alur tantangan (bagaimana Anda mengatasi tantangan dalam hidup). Selanjutnya, alur kreativitas (mengapa Anda memutuskan untuk tidak mengikuti jalan konvensional). Lalu, ke tiga, plot koneksi (Anda melakukan sesuatu yang mirip dengan orang yang bertanya)
4. Bertanya lalu dengarkan
Bukalah komunikasi dengan pertanyaan seputar hobi, keluarga atau, rencana perjalanan seseorang yang dekat Anda. Jika Anda menguasai salah satu topik tersebut, maka pembicaraan akan dengan mudah mengalir. Nah, jika tidak, tetaplah lanjutkan untuk bertanya dan dengarkan dengan saksama sampai Anda memahami inti percakapan. Hargailah lawan bicara Anda.
5. Banyak membaca
Buku adalah jendela dunia. Tak hanya buku, sebenarnya jika Anda banyak membaca, Anda dapat mengetahui isu yang sedang jadi tren, maka pembicaraan menjadi lebih mudah mengalir.
http://female.kompas.com
1. Berbicara apa adanya
Saran yang sangat mudah ini darang dari Scott Adamns, pencipta tokoh kartun Dilbert: "Jangan berbicara omong kosong karena akan menurunkan pamor Anda dalam ruangan tersebut. Sebaliknya, katakanlah sesuatu yang positif sesering mungkin. Hal tersebut dapat memotivasi suasana hati setiap orang di sekeliling Anda. Lalu, jika Anda berbicara menggunakan nada positif, maka hal tersebut pun akan menular pada orang lain,"
2. Belajar dari idola
Seorang penulis dan motivator, Scott Ginsberg, menyarankan untuk menuliskan 10 nama idola Anda. Kemudian, jabarkan tiga sifat mereka yang menurut Anda menarik. Sebab, melakukan hal yang demikian dapat secara tidak langsung mengarahkan pikiran dan perilaku lebih baik, setidaknya serupa dengan idola Anda.
3. Jawab pertanyaan soal diri sendiriChip Heath, profesor dari Stanford Graduate School of Business menyarankan untuk fokus pada tiga alur, ketika menceritakan kehidupan Anda. Pertama, alur tantangan (bagaimana Anda mengatasi tantangan dalam hidup). Selanjutnya, alur kreativitas (mengapa Anda memutuskan untuk tidak mengikuti jalan konvensional). Lalu, ke tiga, plot koneksi (Anda melakukan sesuatu yang mirip dengan orang yang bertanya)
4. Bertanya lalu dengarkan
Bukalah komunikasi dengan pertanyaan seputar hobi, keluarga atau, rencana perjalanan seseorang yang dekat Anda. Jika Anda menguasai salah satu topik tersebut, maka pembicaraan akan dengan mudah mengalir. Nah, jika tidak, tetaplah lanjutkan untuk bertanya dan dengarkan dengan saksama sampai Anda memahami inti percakapan. Hargailah lawan bicara Anda.
5. Banyak membaca
Buku adalah jendela dunia. Tak hanya buku, sebenarnya jika Anda banyak membaca, Anda dapat mengetahui isu yang sedang jadi tren, maka pembicaraan menjadi lebih mudah mengalir.
http://female.kompas.com
Friday, September 19, 2014
Di Balik Kecerdasan Anak Ada Orangtua Kreatif
angan asal buat aturan dan perintah untuk anak agar rajin belajar.
Sebab, sebagai orangtua, Anda juga harus kreatif dalam menciptakan
suasana belajar yang mengasyikkan untuk si kecil. Bagaimana caranya?
Umumnya, program pendidikan dini seperti preschool dan Taman Kanak-kanak (TK) menawarkan sejumlah kurikulum yang kental dengan unsur seni. Ternyata, menurut sebuah penelitian, pelajaran seni pada anak balita ampuh dalam merangsang dan menstimulasi otak buah hati Anda untuk berpikir cerdas.
“Seni meningkatkan dan memudahkan proses belajar,” ujar Eric Jensen, peneliti dan penulis Arts with the Brain Mind.
Menurut penelitian Jensen, anak-anak yang sedari kecil familiar dengan melukis, bermain musik, dan sebagainya, memiliki nilai akademis tinggi. Ini dibuktikan dengan daya tangkap otak mereka yang lebih mudah dalam mencerna serta menyimpan informasi.
Selain itu, pendidikan seni sedari kecil tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan inovatif pada bidang yang mereka minati.
Nah, untuk memperkenalkan seni pada anak sedari kecil, orangtua haruslah berpikir kreatif. Anda harus cerdik dalam membiasakan anak untuk belajar dengan cara dan gaya yang menyenangkan.
Salah satunya adalah menyediakan sebuah kantung besar berisi alat-alat gambar, kertas kosong, spidol, lem, gunting, kapas, dan kertas origami. Kemudian, beri waktu pada anak untuk membiarkannya “bermain” dengan apapun yang mereka pilih dari dalam kantung tersebut.
Selanjutnya, hargai karya anak dengan cara menggantungkannya di depan pintu kamar, pintu lemari es, atau di tangga. Sebab, melihat hasil karyanya dihargai oleh Anda, bisa memicunya untuk terus menggali kemampuan demi memberikan karya yang lebih baik.
http://female.kompas.com
Umumnya, program pendidikan dini seperti preschool dan Taman Kanak-kanak (TK) menawarkan sejumlah kurikulum yang kental dengan unsur seni. Ternyata, menurut sebuah penelitian, pelajaran seni pada anak balita ampuh dalam merangsang dan menstimulasi otak buah hati Anda untuk berpikir cerdas.
“Seni meningkatkan dan memudahkan proses belajar,” ujar Eric Jensen, peneliti dan penulis Arts with the Brain Mind.
Menurut penelitian Jensen, anak-anak yang sedari kecil familiar dengan melukis, bermain musik, dan sebagainya, memiliki nilai akademis tinggi. Ini dibuktikan dengan daya tangkap otak mereka yang lebih mudah dalam mencerna serta menyimpan informasi.
Selain itu, pendidikan seni sedari kecil tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan inovatif pada bidang yang mereka minati.
Nah, untuk memperkenalkan seni pada anak sedari kecil, orangtua haruslah berpikir kreatif. Anda harus cerdik dalam membiasakan anak untuk belajar dengan cara dan gaya yang menyenangkan.
Salah satunya adalah menyediakan sebuah kantung besar berisi alat-alat gambar, kertas kosong, spidol, lem, gunting, kapas, dan kertas origami. Kemudian, beri waktu pada anak untuk membiarkannya “bermain” dengan apapun yang mereka pilih dari dalam kantung tersebut.
Selanjutnya, hargai karya anak dengan cara menggantungkannya di depan pintu kamar, pintu lemari es, atau di tangga. Sebab, melihat hasil karyanya dihargai oleh Anda, bisa memicunya untuk terus menggali kemampuan demi memberikan karya yang lebih baik.
http://female.kompas.com
Friday, August 22, 2014
Begini Cara Ajarkan Rasa Hormat Pada Anak
Senang ya, jika melihat anak kecil bersikap sangat sopan dengan orang di sekitarnya. Sudahkah anak Anda melakukannya?
Saling menghormati merupakan salah satu kunci hidup harmonis antar sesama. Mengajarkan hal ini pada anak bukanlah hal mudah. Jangan sampai anak memaknai kata “hormat” sebagai sesuatu yang menakutkan atau hanya berlaku jika berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Berikut beberapa strategi untuk membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat yang lebih besar terhadap orang lain.
Jadilah contohAnak-anak merupakan peniru ulung. Mereka bisa dengan cepat meniru sikap dan perilaku Anda. Jika Anda ingin memberikannya contoh bagaimana menghormati sesama, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan selalu bersikap dan berbicara kepada anak dan orang lain dengan cara hormat.
Misalnya ketika anak ingin mendiskusikan perasaannya (curhat). Cobalah mendengarkan dengan penuh perhatian.
Amati perilaku anak
Apakah ia sudah melakukan hal yang benar sesuai dengan yang Anda ajarkan. Jangan sampai ia berpikir bahwa hal ini hanya bersifat sementara. Katakan dengan tegas kalau itu berlaku seumur hidup.
Buat aturanAda tiga kata kunci yang harus diucapkan anak dalam pelajaran menghormati orang lain ini. Yaitu, meminta “minta maaf” segera setelah melakukan kesalahan, mengucapkan “terima kasih” meski itu untuk sebuah pertolongan kecil, dan “tolong” ketika meminta bantuan kepada orang lain.
Aturan lainnya seperti tidak berkata kasar, mendengarkan dengan seksama lawan bicara (tidak sambil membaca buku main games, atau menonton televisi), tidak menyela saat orang lain sedang bicara, mengucapkan salam saat bertemu/berpisah.
Jika aturan dilanggar:
- Ajak anak diskusi. Ketika anak berkata sarkastik, minta ia memikirkan cara-cara yang lebih terhormat untuk mengkomunikasikan pikiran atau perasaannya.
- Dorong empati. Ajak anak membayangkan jika ia yang mendapatkan perlakuan tidak hormat dari orang lain.
Tips
- Jadilah konsisten ketika mengajar anak-anak berperilaku hormat.
- Beberapa anak mungkin butuh lebih banyak waktu untuk belajar bagaimana berperilaku hormat. Maka dari itu, bersabarlah... (Ester Sondang)
http://female.kompas.com/
Saling menghormati merupakan salah satu kunci hidup harmonis antar sesama. Mengajarkan hal ini pada anak bukanlah hal mudah. Jangan sampai anak memaknai kata “hormat” sebagai sesuatu yang menakutkan atau hanya berlaku jika berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Berikut beberapa strategi untuk membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat yang lebih besar terhadap orang lain.
Jadilah contohAnak-anak merupakan peniru ulung. Mereka bisa dengan cepat meniru sikap dan perilaku Anda. Jika Anda ingin memberikannya contoh bagaimana menghormati sesama, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan selalu bersikap dan berbicara kepada anak dan orang lain dengan cara hormat.
Misalnya ketika anak ingin mendiskusikan perasaannya (curhat). Cobalah mendengarkan dengan penuh perhatian.
Amati perilaku anak
Apakah ia sudah melakukan hal yang benar sesuai dengan yang Anda ajarkan. Jangan sampai ia berpikir bahwa hal ini hanya bersifat sementara. Katakan dengan tegas kalau itu berlaku seumur hidup.
Buat aturanAda tiga kata kunci yang harus diucapkan anak dalam pelajaran menghormati orang lain ini. Yaitu, meminta “minta maaf” segera setelah melakukan kesalahan, mengucapkan “terima kasih” meski itu untuk sebuah pertolongan kecil, dan “tolong” ketika meminta bantuan kepada orang lain.
Aturan lainnya seperti tidak berkata kasar, mendengarkan dengan seksama lawan bicara (tidak sambil membaca buku main games, atau menonton televisi), tidak menyela saat orang lain sedang bicara, mengucapkan salam saat bertemu/berpisah.
Jika aturan dilanggar:
- Ajak anak diskusi. Ketika anak berkata sarkastik, minta ia memikirkan cara-cara yang lebih terhormat untuk mengkomunikasikan pikiran atau perasaannya.
- Dorong empati. Ajak anak membayangkan jika ia yang mendapatkan perlakuan tidak hormat dari orang lain.
Tips
- Jadilah konsisten ketika mengajar anak-anak berperilaku hormat.
- Beberapa anak mungkin butuh lebih banyak waktu untuk belajar bagaimana berperilaku hormat. Maka dari itu, bersabarlah... (Ester Sondang)
http://female.kompas.com/
Monday, August 4, 2014
Risiko Impoten pada Pria Pecandu Ponsel
Terlalu "lengket" dengan gadget
memang bisa membuat kesempatan kita untuk berinteraksi secara langsung
dengan orang di sekitar menjadi berkurang. Tetapi keakraban dengan gadget ternyata juga bisa merusak kehidupan seksual.
Sebuah studi teranyar menemukan, pria yang memegang ponselnya lebih dari 4 jam setiap hari lebih rentan mengalami impotensi dibanding mereka yang membatasi memegang gadgetnya kurang dari 2 jam setiap hari.
Penelitian ini dilakukan terhadap 20 pria yang mengalami gangguan ereksi selama 6 bulan penelitian. Mereka juga melibatkan 10 pria sehat yang tidak ada masalah dengan ereksinya. Setiap orang diminta mengisi tes tentang fungsi ereksi dan juga kebiasaan mereka memakai ponsel.
Secara umum memang tidak ada perbedaan nyata pada kedua kelompok itu. Mereka juga memiliki kadar testosteron yang hampir sama, demikian pula dengan durasi waktu mereka menggunakan gadget.
Perbedaan jelas terlihat pada waktu mereka menyimpan ponsel di kantong baju atau celana, atau pun menggenggamnya.
Pria yang sebelumnya diketahui mengalami kesulitan ereksi ternyata membawa ponsel mereka lebih lama dibanding pria dari kelompok B atau pria yang sehat. Jumlahnya cukup berbeda, 4 jam dibanding 1,8 jam.
"Total waktu ketika menggenggam ponsel lebih berpengaruh dibanding dengan yang jarang memakai ponsel," kata peneliti.
Studi lain mengenai penggunaan ponsel dan tingkat kesuburan juga banyak dilakukan. Salah satunya menyebutkan, makin sering pria menggunakan ponselnya, makin buruk kualitas dan jumlah sperma mereka.
http://health.kompas.com
Sebuah studi teranyar menemukan, pria yang memegang ponselnya lebih dari 4 jam setiap hari lebih rentan mengalami impotensi dibanding mereka yang membatasi memegang gadgetnya kurang dari 2 jam setiap hari.
Penelitian ini dilakukan terhadap 20 pria yang mengalami gangguan ereksi selama 6 bulan penelitian. Mereka juga melibatkan 10 pria sehat yang tidak ada masalah dengan ereksinya. Setiap orang diminta mengisi tes tentang fungsi ereksi dan juga kebiasaan mereka memakai ponsel.
Secara umum memang tidak ada perbedaan nyata pada kedua kelompok itu. Mereka juga memiliki kadar testosteron yang hampir sama, demikian pula dengan durasi waktu mereka menggunakan gadget.
Perbedaan jelas terlihat pada waktu mereka menyimpan ponsel di kantong baju atau celana, atau pun menggenggamnya.
Pria yang sebelumnya diketahui mengalami kesulitan ereksi ternyata membawa ponsel mereka lebih lama dibanding pria dari kelompok B atau pria yang sehat. Jumlahnya cukup berbeda, 4 jam dibanding 1,8 jam.
"Total waktu ketika menggenggam ponsel lebih berpengaruh dibanding dengan yang jarang memakai ponsel," kata peneliti.
Studi lain mengenai penggunaan ponsel dan tingkat kesuburan juga banyak dilakukan. Salah satunya menyebutkan, makin sering pria menggunakan ponselnya, makin buruk kualitas dan jumlah sperma mereka.
http://health.kompas.com
Jangan Tidur Dekat Ponsel
Pernahkah Anda ngobrol dengan teman di grup chatt
atau dengan kekasih sampai dini hari? Atau Anda punya kebiasaan
meletakkan ponsel di dekat bantal agar bisa cepat mengeceknya jika ada
pesan masuk? Anda tak sendiri. Menurut survei, 44 persen pemilik ponsel
tidur di dekat ponsel mereka.
Meski Anda beralasan tak bisa jauh-jauh dari ponsel sepanjang hari, tetapi saat tidur sebaiknya simpan ponsel atau gadget jauh dari tempat tidur. Ketahui apa saja bahaya kesehatan jika kita tidur bersama ponsel.
- Risiko terbakar
Sudah cukup sering terjadi kasus ponsel pintar meledak dan terbakar di tempat tidur. Sejauh ini diduga penyebabnya adalah pemakaian baterai yang tidak sesuai dengan spesifikasi ponsel. Oleh karena itu, sebaiknya kita memilih aksesoris ponsel yang asli dan menjauhkan ponsel dari tempat tidur di malam hari.
- Mengganggu tidur
Ponsel, tablet, TV, dan berbagai perangkat gadget yang menggunakan layar LED akan mengeluarkan cahaya biru. Sinar ini diketahui akan menghambat produksi hormon melatonin yang kita butuhkan agar bisa mengantuk. Terganggunya produksi melatonin juga akan merusak jam biologis tubuh.
- Bahaya radiasi
Memang belum ada riset yang membuktikan penggunan ponsel akan menyebabkan kanker. Tetapi secara umum ponsel dan gadget lain mengeluarkan radiasi elektromagnetik dalam dosis rendah. Jumlah yang sama juga dikeluarkan oleh microwave dan alat rontgen.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan radiasi tersebut bisa bersifat karsinogen pada manusia, terutama pada anak-anak. Itu sebabnya, jika Anda masih memiliki anak kecil, jauhkan perangkat gadget dari kamar tidur.
http://health.kompas.com
Meski Anda beralasan tak bisa jauh-jauh dari ponsel sepanjang hari, tetapi saat tidur sebaiknya simpan ponsel atau gadget jauh dari tempat tidur. Ketahui apa saja bahaya kesehatan jika kita tidur bersama ponsel.
- Risiko terbakar
Sudah cukup sering terjadi kasus ponsel pintar meledak dan terbakar di tempat tidur. Sejauh ini diduga penyebabnya adalah pemakaian baterai yang tidak sesuai dengan spesifikasi ponsel. Oleh karena itu, sebaiknya kita memilih aksesoris ponsel yang asli dan menjauhkan ponsel dari tempat tidur di malam hari.
- Mengganggu tidur
Ponsel, tablet, TV, dan berbagai perangkat gadget yang menggunakan layar LED akan mengeluarkan cahaya biru. Sinar ini diketahui akan menghambat produksi hormon melatonin yang kita butuhkan agar bisa mengantuk. Terganggunya produksi melatonin juga akan merusak jam biologis tubuh.
- Bahaya radiasi
Memang belum ada riset yang membuktikan penggunan ponsel akan menyebabkan kanker. Tetapi secara umum ponsel dan gadget lain mengeluarkan radiasi elektromagnetik dalam dosis rendah. Jumlah yang sama juga dikeluarkan oleh microwave dan alat rontgen.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebutkan radiasi tersebut bisa bersifat karsinogen pada manusia, terutama pada anak-anak. Itu sebabnya, jika Anda masih memiliki anak kecil, jauhkan perangkat gadget dari kamar tidur.
http://health.kompas.com
Wednesday, July 9, 2014
Kiat Mengasuh Anak Tunggal Supaya Tidak Manja
Anak tunggal umumnya mendapatkan perhatian ekstra dari orang tuanya.
Alhasil, tak sedikit anak tunggal tumbuh dewasa menjadi manja dan
memiliki perilaku yang kurang menyenangkan.
Sebagai orang tua, tentunya Anda menginginkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan menyenangkan, baik untuk dirinya sendiri, juga bagi lingkungan sosialnya. Dengan demikian, simak uraian mengenai pola asuh membesarkan si anak tunggal, seperti dikutip Boldsky.
1. Terapkan aturan
Untuk menghindari kebiasaan memanjakan anak tunggal, maka orang tua perlu membuat peraturan pada anak. Orang tua harus berani tegas mengatakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Seiring dengan itu, jangan pernah lelah untuk memberikan pemahaman dan pengertian mengenai manfaat baik dari aturan yang Anda terapkan pada si kecil. Tujuannya, agar anak menjalani aturan tanpa paksaan dan tekanan.
2.Turuti peraturanMenaati peraturan tak semudah menciptakannya. Namun, sebagai orangtua yang ingin anak tunggalnya tumbuh menjadi sosok yang mandiri, maka Anda sendiri juga harus memberikan contoh positif pada si kecil, dengan cara menaati peraturan yang Anda terapkan padanya. Melihat Anda menuruti aturan, anak pun secara alamiah akan mengikuti sikap Anda tersebut.
3.Bijak menuruti keinginan anak
Salah satu “ujian” terberat orangtua dengan anak tunggal adalah saat si kecil merajuk minta dibelikan sesuatu. Jika terjadi hal yang demikian, beri waktu pada diri Anda untuk mempertimbangkan keinginannya tersebut. Selama sesuai dengan kebutuhan akademisnya, turutilah. Namun, jika sebaliknya, Anda harus menahan diri. Ingat saja, boros di waktu sekarang bisa membuahkan kesulitan di masa depan.
4.Tanggung jawab
Berikan tanggung jawab pada anak sebagai upaya pendewasaan diri. Mulailah dengan hal mudah seperti membantu Anda di dapur, merapikan kamar dan lemari bajunya, atau merawat hewan peliharaan. Ketika si kecil berhasil menyelesaikan seluruh tugas serta tanggung jawabnya tersebut, Anda jangan lupa mengucapkan terima kasih. Ini merupakan cara praktis dalam mengajarkan rasa menghargai dan pentingnya memberikan apresiasi pada lingkungan sekitar.
5.Dukungan emosional
Menjadi anak tunggal bukanlah hal mudah, tumbuh tanpa saudara kandung untuk berbagi cerita dan tawa, acap kali menimbulkan rasa kesepian pada sang buah hati. Namun, Anda bisa mencegahnya dengan cara menjadi orangtua sekaligus sahabat untuk si kecil. Tentu saja dengan cara yang bijak, supaya anak tidak manja dan terlalu bergantung pada orangtua.
http://female.kompas.com
Sebagai orang tua, tentunya Anda menginginkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan menyenangkan, baik untuk dirinya sendiri, juga bagi lingkungan sosialnya. Dengan demikian, simak uraian mengenai pola asuh membesarkan si anak tunggal, seperti dikutip Boldsky.
1. Terapkan aturan
Untuk menghindari kebiasaan memanjakan anak tunggal, maka orang tua perlu membuat peraturan pada anak. Orang tua harus berani tegas mengatakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Seiring dengan itu, jangan pernah lelah untuk memberikan pemahaman dan pengertian mengenai manfaat baik dari aturan yang Anda terapkan pada si kecil. Tujuannya, agar anak menjalani aturan tanpa paksaan dan tekanan.
2.Turuti peraturanMenaati peraturan tak semudah menciptakannya. Namun, sebagai orangtua yang ingin anak tunggalnya tumbuh menjadi sosok yang mandiri, maka Anda sendiri juga harus memberikan contoh positif pada si kecil, dengan cara menaati peraturan yang Anda terapkan padanya. Melihat Anda menuruti aturan, anak pun secara alamiah akan mengikuti sikap Anda tersebut.
3.Bijak menuruti keinginan anak
Salah satu “ujian” terberat orangtua dengan anak tunggal adalah saat si kecil merajuk minta dibelikan sesuatu. Jika terjadi hal yang demikian, beri waktu pada diri Anda untuk mempertimbangkan keinginannya tersebut. Selama sesuai dengan kebutuhan akademisnya, turutilah. Namun, jika sebaliknya, Anda harus menahan diri. Ingat saja, boros di waktu sekarang bisa membuahkan kesulitan di masa depan.
4.Tanggung jawab
Berikan tanggung jawab pada anak sebagai upaya pendewasaan diri. Mulailah dengan hal mudah seperti membantu Anda di dapur, merapikan kamar dan lemari bajunya, atau merawat hewan peliharaan. Ketika si kecil berhasil menyelesaikan seluruh tugas serta tanggung jawabnya tersebut, Anda jangan lupa mengucapkan terima kasih. Ini merupakan cara praktis dalam mengajarkan rasa menghargai dan pentingnya memberikan apresiasi pada lingkungan sekitar.
5.Dukungan emosional
Menjadi anak tunggal bukanlah hal mudah, tumbuh tanpa saudara kandung untuk berbagi cerita dan tawa, acap kali menimbulkan rasa kesepian pada sang buah hati. Namun, Anda bisa mencegahnya dengan cara menjadi orangtua sekaligus sahabat untuk si kecil. Tentu saja dengan cara yang bijak, supaya anak tidak manja dan terlalu bergantung pada orangtua.
http://female.kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)