"Kematian Kristus adalah kejadian yang terpenting dalam sejarah manusia." - Martin Luther
Pagi ini tidak seperti Jumat biasanya, jalanan yang saya lalui menuju ketempat kerja tampak lengang, sepi dan sangat berbeda. Oh iya, selain karena tanggal merah tentu saja karena ada sejarah besar yang diperingati dihari ini. Ada sejarah besar yang tercatat dan menjadi tonggak sejarah juga dasar iman. Bisa jadi mulai hari ini banyak yang memanfaatkan untuk istirahat dan berlibur. Namun bagi para pengikut Kristus, momen hari Jumat yang syahdu dan penuh makna ini tidak akan begitu saja dilewatkan.
Langkah kaki saya hampir sampai, namun tertahan kemudian berhenti sejenak karena tatapan mata saya tertuju pada bunga berwana kuning yang jatuh dan menyebar diatas pagar tembok didepan sebuah gedung. Saya mencari namanya dan menemukan ternyata bernama bunga Terompet Kuning atau dikenal juga sebagai Bunga Alamanda. Yang saya nikmati dan abadikan adalah bunga-bunga gugur ini bagaimana mereka memahami dan menerima seandainya mereka mampu merasa dan berbicara kemudian menyiapkan diri untuk jatuh, dan kemudian kering lalu membusuk dan hilang. Bahkan sebegitu banyak bersamaan mereka mekar dan mewarnai dunia, mengkin tidak berkesempatan menyatakan keberadaannya. Ah, terlalu aneh pikiran saya ini. Saya tahu, bunga-bunga yang berguguran akan digantikan bunga baru, mekar dan memamerkan keindahannya. Mungkin, bisa jadi pengingat buat saya pagi ini. Waktu kita mekar, mungkin mewangi dan memberikan warna, membagikan keindahan tidak lama, terbatas. Makan menyiapkan diri jika nanti waktunya berguguran, jatuh mengering dan hilang adalah tindakan terbaik.
Menghayati kematian Kristus hari ini, mengingatkan saya sejauh mana saya sudah juga "mematikan" kehidupan lama dan menguburkannya bersama Kristus. Namun jika saya memang harus mati secara badani di dunia ini (entah kapan), saya mengerti bahwa "jatah" waktu saya untuk mekar, mewangi dan mencerahkan hari dengan warna saya sudah selesai.
Langkah saya ringan menuju gedung selanjutnya. Pagi cerah, langit biru dan sapaan kucing warna oranye didepan pintu gerbang itu membawa saya pada perasaan yang memuaskan. Jika Kristus tidak mati, bagaimana saya akan hidup? Jika bunga tidak gugur bagiamana keindahan akan berlanjut. Jika begitu maka selayaknyalah saya bersyukur.
No comments:
Post a Comment